BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

RESMI IPO, ESA MEDIKA MANDIRI EKSEKUSI EKSPANSI PABRIK BARU DI CIKUPA

Terbit Pada

08 July 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 08-07-2026, 02:00:pm

18847773

IQPlus, (8/7) - PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) resmi mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7/2026). Melalui aksi korporasi ini, perusahaan penyedia alat kesehatan terintegrasi tersebut berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp245,74 miliar. Langkah melantai di bursa ini langsung diikuti dengan rencana eksekusi perluasan kapasitas produksi dan memperkuat modal kerja perusahaan.

Perseroan melepas 522,86 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran Rp470 per saham. Masa penawaran umum tersebut mencatatkan minat investor yang cukup tinggi, dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed) mencapai sekitar 14 kali. Berdasarkan prospektus, mayoritas dana hasil IPO atau sekitar 72,3% akan dialokasikan untuk modal kerja, Rp50 miliar untuk membayar sebagian pokok pinjaman, dan 6,4% untuk belanja modal.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, menjelaskan bahwa alokasi belanja modal tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas manufaktur baru di Cikupa, Tangerang. Pabrik di atas lahan seluas 2.000 hingga 3.000 meter persegi ini dirancang setinggi dua hingga tiga lantai. Fasilitas baru ini nantinya difokuskan untuk memproduksi barang medis habis pakai (BMHP) guna memperkuat lini bisnis manufaktur perusahaan.

Konstruksi pabrik baru tersebut ditargetkan mulai berjalan pada akhir tahun 2026 dengan masa pembangunan sekitar satu tahun, sehingga diproyeksikan beroperasi pada kuartal III atau IV tahun 2027. Saat ini, kapasitas produksi benang bedah EMMI berada di angka 4 juta piece per tahun. Karena lini produksi tersebut baru aktif tahun ini, manajemen membidik realisasi produksi pada tahun pertama sebesar 1 juta hingga 1,5 juta piece.

Mengenai kinerja keuangan, Florian optimistis pendapatan perusahaan mampu tumbuh sekitar 10% sepanjang tahun 2026 dibandingkan tahun lalu. Strategi yang disiapkan untuk mencapai target tersebut meliputi perluasan pasar benang bedah ke rumah sakit swasta, selain tetap mengandalkan proyek Kementerian Kesehatan dan sistem e-katalog pemerintah. Manajemen menyatakan telah mengamankan sejumlah kontrak penjualan untuk mendukung target pertumbuhan ini.

Di tengah fluktuasi nilai tukar, EMMI menilai pelemahan rupiah belum berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan perseroan telah mengunci harga pengadaan bahan baku dengan mitra di China menggunakan mata uang Renminbi (RMB) sejak awal tahun. Langkah ekspansi ke segmen BMHP ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan berulang (recurring income), memperbaiki margin keuntungan, serta memaksimalkan potensi pasar alat kesehatan nasional. (end)