BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

PLTP LAHENDONG DIPERCEPAT, PGEO PERKUAT POSISI DI TRANSISI ENERGI NASIONAL

Terbit Pada

17 December 2025

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 03-11-2025, 09:10:am

35058276

IQPlus, (17/12) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan energi baru dan terbarukan dengan menyerahkan dokumen teknis proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 7 dan 8 kepada PT PLN (Persero). Proyek ini memiliki kapasitas 2 x 20 megawatt (MW) dan dikombinasikan dengan Binary Unit berkapasitas 10 MW.

Penyerahan dokumen teknis tersebut menjadi persyaratan utama bagi PLN dalam melakukan evaluasi pembelian tenaga listrik berbasis energi terbarukan melalui skema Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL). Langkah ini membuka jalan bagi realisasi penambahan pasokan listrik hijau di Sulawesi Utara.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, mengatakan bahwa pengembangan Lahendong merupakan kelanjutan dari optimalisasi potensi panas bumi yang telah dilakukan sejak beroperasinya PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 pada 2016. Menurutnya, penyampaian dokumen teknis ini menjadi fase krusial dalam mendorong percepatan tahapan pengembangan berikutnya.

"Dengan disampaikannya dokumen teknis ini, kami berharap PLN dapat melanjutkan proses evaluasi dan pembelian tenaga listrik dari pembangkit EBT. Ke depan, PGE berkomitmen memperluas manfaat panas bumi agar dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujar Edwil.

Sejalan dengan hal tersebut, PGE siap melanjutkan proses lanjutan bersama PLN, termasuk diskusi teknis terkait kajian reservoir, desain fasilitas produksi, studi penyambungan sistem, serta aspek kelistrikan dan komersial lainnya.

Saat ini, PGE berkontribusi sekitar 30% terhadap kebutuhan listrik di Sulawesi Utara dan sekitarnya. Dengan beroperasinya PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 serta Binary Unit, kontribusi tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 35% hingga 40% dari total kebutuhan listrik regional.

Proyek ini juga sejalan dengan target nasional perluasan kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan hingga 76% pada periode 2025-2034.

PLTP Lahendong yang memanfaatkan sumber daya panas bumi di Prospek Tompaso tercantum dalam daftar potensi panas bumi yang memerlukan kajian lanjutan.

Selain itu, pengembangan Lahendong menjadi salah satu dari empat proyek strategis panas bumi PGE yang tercantum dalam Blue Book 2025-2029 Kementerian PPN/Bappenas. Penetapan ini menegaskan peran panas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional.

Di luar kontribusi terhadap pasokan listrik, industri panas bumi juga memberikan dampak ekonomi signifikan. Sepanjang 2010-2024, sektor ini mencatatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp21,43 triliun, serta Dana Bagi Hasil (DBH) senilai sekitar Rp10,82 triliun pada periode 2019-2024 bagi daerah penghasil.

Sebagai pionir panas bumi di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW di enam wilayah operasi dan tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lainnya, termasuk PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 110 MW serta proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW. (end)