PERTAMINA PASTIKAN KEANDALAN DISTRIBUSI ENERGI DI BALI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
02 June 2026
15256575
IQPlus, (2/6) - Pertamina terus memperkuat pengawasan terhadap fasilitas operasional penyaluran energi di berbagai wilayah Indonesia guna menjaga kelancaran pasokan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui kunjungan Dewan Komisaris Pertamina ke Integrated Terminal (IT) Manggis di Karangasem, Bali dalam agenda Management Walkthrough yang berlangsung pada Kamis, 28 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan energi, memperkuat distribusi, memastikan kesiapan fasilitas, serta menjaga kestabilan pasokan energi, khususnya untuk wilayah Bali dan area sekitarnya.
Sebagai terminal terbesar di Pulau Bali, IT Manggis memiliki fungsi penting dalam rantai distribusi energi. Fasilitas ini juga menjadi terminal penghubung utama atau hub bagi terminal-terminal lain yang berada di kawasan kepulauan Nusa Tenggara.
Dengan luas area mencapai 17 hektare, Integrated Terminal Manggis menyalurkan berbagai jenis bahan bakar minyak, mulai dari Pertalite, Pertamax, BioSolar, MFO (Marine Fuel Oil), hingga MDF (Marine Diesel Fuel).
Penyaluran energi dari IT Manggis mencakup 148 SPBU, 54 Pertashop, 2 APMS (Agen Premium dan Minyak Solar), 2 SPBUN (SPBU Nelayan), SPBU Kompak, serta kebutuhan sektor industri di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, distribusi LPG dari terminal ini dilakukan menuju 16 SPPBE PSO (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji Public Service Obligation), 4 SPPBE NPSO (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji Public Service Non Obligation), serta 2 sektor industri.
Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen Pertamina Mochamad Iriawan menegaskan bahwa keberadaan IT Manggis memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keandalan operasional dengan tetap mengedepankan aspek HSSE (Health, Safety, Security and Environment).
"HSSE adalah license to operate tidak ada kompromi terhadap keselamatan pekerja, keamanan fasilitas maupun perlindungan lingkungan hidup. Awareness terhadap aspek safety, emergency respon risk mitigation dan perlindungan lingkungan, harus ditingkatkan, dan semua pihak harus memastikan operasional aman, responsif dan berkelanjutan," ujarnya. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
