BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    PENGELOLAAN LIMBAH TBS ENERGI BERKONTRIBUSI 41 PERSEN KE PENDAPATAN

    Terbit Pada

    10 March 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 26-02-2026, 10:30:am

    06848254

    IQPlus, (10/3) - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) atau TBS mencatatkan pendapatan dari pengelolaan limbah senilai 155,4 juta dolar AS, atau berkontribusi sebesar 41 persen dari total pendapatan perseroan.

    "Melalui komposisi bisnis yang semakin terdiversifikasi, eksposur terhadap volatilitas harga batu bara global pun semakin berkurang, sejalan dengan arah transformasi perseroan," ujar Direktur TBS Juli Oktarina dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

    Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatatkan pendapatan senilai 194,6 juta dolar AS, atau setara 51 persen dari total pendapatan perseroan.

    "Kontribusi segmen batu bara turun signifikan dibandingkan 81 persen pada tahun lalu, yang mencerminkan arah strategis TBS untuk secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batu bara, sekaligus mempercepat pergeseran menuju portofolio yang lebih berkelanjutan," ujar Juli.

    Meski menghadapi tantangan pasar komoditas batu bara, perseroan mencatatkan EBITDA disesuaikan positif sebesar 47,2 juta dolar AS pada 2025, yang menjaga posisi saldo kas di level sehat sebesar 102,3 juta dolar AS atau meningkat 15 persen dibanding 2024.

    Di sisi lain, perseroan masih membukukan rugi bersih 162 juta dolar AS pada 2025, yang disebabkan oleh merosotnya harga batu bara dunia sepanjang 2025.

    Selain itu, juga disebabkan oleh kerugian non-kas dan tidak berulang, yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) senilai 97 juta dolar AS sebagai bagian dari transformasi ke sektor rendah karbon.

    Juli memandang bahwa realisasi rugi akuntansi perseroan di tahap ini, merupakan bagian dari proses transisi satu kali yang diperlukan untuk membuka potensi arus kas jangka yang lebih berkualitas.

    Selain itu, menurutnya, aset yang dapat menghasilkan pendapatan lebih berkelanjutan pada 2025, menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi TBS.

    "Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan perseroan, yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," ujarnya.

    Juli menjelaskan, langkah strategis perseroan menjadi semakin relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar energi global.

    "Perseroan memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar energi global," ujarnya.

    Ia melanjutkan, strategi bisnis saat ini memberikan fleksibilitas untuk tetap tumbuh, yang mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional.

    "Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang," ujar Juli.

    Seiring fundamental tetap solid, EBITDA disesuaikan positif, serta arah strategi regional yang semakin jelas, perseroan optimistis langkah ini akan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

    "Optimisme ini diperkuat oleh progres peta jalan TBS2030 yang terus menunjukkan kemajuan," ujar Juli.

    Dia menjelaskan, perseroan berhasil menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya merepresentasikan sekitar 86 persen emisi portofolio pembangkit, atau sekitar 1,4 juta ton CO2 per tahun berdasarkan profil emisi 2024.

    Selain itu, pada November 2025, perseroan juga meluncurkan Climate Transition Plan (CTP), yaitu panduan yang lebih komprehensif mengenai dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan.

    "Pencapaian ini membawa perseroan semakin dekat menuju target netral karbon pada tahun 2030 dalam visi Towards a Better Society," ujarnya. (end/ant)