BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

PASAR SAHAM SEMESTER II 2026 DIPROYEKSI DITOPANG FUNDAMENTAL DAN STATUS EMERGING MARKET

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

21 July 2026

20148456

IQPlus, (21/7) - Prospek pasar saham Indonesia pada semester II-2026 diperkirakan akan lebih ditentukan oleh kondisi fundamental ekonomi dibanding sekadar momentum rebound teknikal. Faktor eksternal seperti arah kebijakan moneter global, valuasi saham yang semakin menarik, serta tetap dipertahankannya status Indonesia sebagai Emerging Market dalam indeks MSCI dinilai menjadi penopang utama pergerakan pasar pada paruh kedua tahun ini.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, menurutnya, setelah fase pemulihan awal, perhatian investor akan beralih pada kualitas fundamental ekonomi, arah suku bunga global, serta kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.

Rully menilai tantangan utama pasar masih berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026, sehingga kebijakan suku bunga tinggi atau higher for longer diperkirakan masih berlanjut. Kondisi tersebut dinilai akan memperketat likuiditas dolar AS, memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sekaligus membatasi ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia direvisi menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya masing-masing 5,0% dan 5,1%. Revisi itu didasarkan pada melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang belum kondusif, serta masih ketatnya kebijakan moneter global. Sementara itu, inflasi diperkirakan mencapai 4,0% pada 2026 sebelum kembali ke kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5% pada 2027.

Meski demikian, peluang investasi dinilai tetap terbuka. Stabilitas nilai tukar rupiah, musim pelaporan kinerja keuangan emiten kuartal II-2026, serta kepastian arah kebijakan diperkirakan dapat menopang pemulihan pasar secara bertahap. Dalam rekomendasinya, perusahaan tetap menjadikan BBCA sebagai pilihan utama di sektor perbankan, disertai rekomendasi saham BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP yang dinilai memiliki fundamental kuat serta prospek menarik.

Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi katalis positif yang mengurangi ketidakpastian pasar. Meski demikian, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4% pada Juni 2026 dari 1,2% pada akhir 2025 akibat berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham domestik.

Menurut Wilbert, sebelum keputusan MSCI diumumkan, pasar sempat mengantisipasi kemungkinan Indonesia direklasifikasi menjadi Frontier Market yang berpotensi memicu arus keluar dana bersih hingga sekitar Rp80 triliun. Dengan status Emerging Market yang tetap dipertahankan, risiko tersebut mereda. Ia menambahkan, valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade serta peluang dibukanya kembali inklusi indeks MSCI di masa mendatang dapat menjadi pendorong kembalinya aliran dana asing. Namun, keberhasilan pasar saham pada semester II-2026 tetap akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik pasar modal, dan mendorong pertumbuhan laba emiten. (end)