NEXT : HILIRISASI BAUKSIT KUNCI LEPAS DARI JEBAKAN PENDAPATAN MENENGAH
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
02 March 2026
06046767
IQPlus, (2/3) - NEXT Indonesia Center menilai hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium dapat meningkatkan nilai tambah hingga puluhan kali lipat serta menjadi kunci Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
"Hilirisasi merupakan jalan keluar nyata bagi Indonesia untuk memperkuat struktur industri nasional dan menghentikan kebiasaan menjual bauksit secara mentah," kata Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko berdasarkan keterangannya, Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki cadangan bauksit sekitar 2,9 miliar ton, namun selama ini lebih banyak menjualnya dalam bentuk mentah.
Berdasarkan analisis NEXT Indonesia Center, harga bauksit di pasar internasional pada 2024 sekitar 59 dolar AS per ton.
Sementara jika bauksit dapat diolah menjadi alumina, nilainya dapat mencapai 478 dolar AS per ton atau sekitar 8,1 kali lipat.
"Bahkan jika diolah menjadi aluminium, jika dihitung harga rata-rata 20 tahun terakhir, nilai tambahnya bisa melonjak hingga 59 kali lipat," ujarnya.
Christiantoko menyebut bahwa selisih harga yang lebar antara bahan mentah dan produk turunan menunjukkan potensi ekonomi yang belum optimal dimanfaatkan di dalam negeri.
Ia mencontohkan proyek hilirisasi bauksit-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikelola PT Borneo Alumina Indonesia, entitas hasil kolaborasi PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium di bawah MIND ID, dengan nilai investasi sekitar 6,32 miliar dolar AS.
Ia mengatakan proyek tersebut menjadi simbol transformasi dari eksportir bahan mentah menuju produsen aluminium bernilai tambah tinggi dengan target operasi penuh pada 2028-2029.
NEXT Indonesia Center juga mencatat pada periode 2020-2024, Tiongkok meraih pendapatan 175,6 miliar dolar AS dari ekspor aluminium, sementara Indonesia memperoleh sekitar 1,9 miliar dolar AS dari ekspor bauksit pada periode yang sama.
"Fakta ini menunjukkan penguasaan teknologi smelter jauh lebih menentukan posisi ekonomi global dibanding sekadar kepemilikan tambang," tuturnya.
Christiantoko menambahkan kebutuhan aluminium domestik diperkirakan meningkat dari sekitar 1.200 kilo ton per annum (ktpa) pada 2025 menjadi 8.500 ktpa pada 2055, sehingga penguatan industri pengolahan dinilai semakin mendesak. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
