BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    MANDIRI SEKURITAS PROYEKSI IHSG BISA CAPAI LEVEL 9.050

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    12 May 2026

    13125363

    IQPlus, (12/5) - Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dapat mencapai level 9.050 hingga akhir 2026.

    Meski demikian, perseroan tetap mencermati adanya potensi revisi proyeksi ke bawah di tengah meningkatnya tekanan geopolitik yang berimbas pada kenaikan beban energi dan pasar keuangan.

    "Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 poin. Tapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya," kata Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin.

    Kresna menjelaskan, pengumuman MSCI pada 12 Mei mendatang akan menjadi katalis jangka pendek yang memengaruhi laju pergerakan IHSG. Sebab, aliran dana asing dalam satu hingga dua bulan ke depan dinilai akan sangat ditentukan oleh hasil pengumuman indeks MSCI tersebut.

    Keputusan terkait apakah bobot emiten Indonesia dalam indeks dipertahankan, ditambah, atau dikurangi diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan arah aksi beli maupun jual investor asing.

    Selain itu, Mandiri Sekuritas mengingatkan adanya risiko penurunan margin keuntungan emiten besar akibat lonjakan harga energi.

    Kresna mengatakan, kenaikan biaya energi berpotensi menekan laba bersih emiten apabila perusahaan tidak mempunyai kemampuan untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen atau tidak memiliki pricing power yang memadai. Kondisi itu pada akhirnya dapat menekan valuasi saham.

    Di sisi lain, Mandiri Sekuritas masih melihat adanya tren positif pada kinerja keuangan emiten yang diperkirakan berlanjut hingga kuartal III 2026.

    Menurut Kresna, titik balik pertumbuhan laba yang mulai terlihat sejak kuartal IV 2025 masih berlanjut pada kuartal I 2026, terutama pada sektor perbankan dan komoditas.

    "Kalau kita cermati di kuartal II dan kuartal III tahun lalu (2025), itu earnings base-nya cukup rendah. Karena memang pada waktu itu kita menghadapi tekanan margin akibat dari kenaikan beban bunga dan juga beban provisi. Jadi harusnya earnings growth yang positif itu masih bisa berlanjut minimal untuk sektor banking dan commodities di kuartal II dan kuartal III (2026). Dan itu harusnya bisa menjaga sentimen pasar yang relatif positif," jelasnya. (end)