BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    LNG RITEL DIDORONG JADI ALTERNATIF BAHAN BAKAR

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    26 May 2026

    14534332

    IQPlus, (26/5) - Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra mendorong penggunaan gas alam cair (LNG) ritel sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat.

    Menurut Hangga, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, pemanfaatan LNG kini menjadi opsi transisi yang potensial, menggantikan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan Pertalite pada sektor transportasi serta logistik.

    "Saat ini, Indonesia mengalami surplus produksi gas sebesar 2.500 MMCSFD," ujarnya saat kunjungannya ke anak usaha PT Solusi Prakarsa Metana (SPM), Elenji di Jakarta, Senin (25/5/2026).

    Hangga menambahkan pasokan LNG Indonesia ke depan diproyeksikan akan semakin melimpah dengan masuknya Blok Andaman ke Arun, pengembangan Bontang melalui Geng North, Blok Geliga dan Gula, FLNG Genting, hingga megaproyek INPEX Masela.

    Namun, lanjutnya, RI masih dibayangi defisit besar pada sektor LPG karena produksi domestik baru memenuhi 20 persen kebutuhan pasar.

    Direktur SPM Saxa Wiza Reyhan memaparkan Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen LNG terbesar dengan volume produksi mencapai 28,8 juta ton per tahun dan total kapasitas nasional sebesar 35,9 MTPA, sementara di saat yang sama, masyarakat mengonsumsi LPG impor sebesar 6,91 juta metrik ton.

    Menurut dia, rasio konversi LNG berbanding LPG impor berada di angka satu banding tujuh, yang berarti pemanfaatan potensi LNG domestik secara mandiri akan memberikan napas panjang bagi ketahanan energi nasional.

    Dalam implementasinya, Elenji memperkenalkan terobosan LNG retail non-pipeline menggunakan tabung vessel gas liquid (VGL) berkapasitas 175 liter sebagai solusi substitusi LPG nonsubsidi di sektor komersial dan industri.

    Berdasarkan hasil riset, satu tabung VGL setara dengan dua tabung LPG ukuran 50 kilogram dengan memiliki empat keunggulan utama, yakni kebutuhan ruang penyimpanan yang lebih kecil di area komersial, stabilitas energi yang tinggi, sangat cocok untuk operasional bisnis yang intensif, berbasis gas domestik murni yang meminimalkan frekuensi pengisian ulang, dan memiliki tingkat tekanan yang relatif rendah.

    Komisaris Utama SPM Marcus Daniel Lelerury menyatakan inovasi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur LNG filling station (LFS) pertama di Indonesia untuk area Jabodetabek.

    "Keunggulan utama sistem LNG berbasis VGL ini adalah sifatnya yang portabel, modular, scalable, serta tidak bergantung pada jaringan pipa, sehingga sangat ideal untuk didistribusikan antarpulau menggunakan kapal maupun truk tangki di negara kepulauan seperti Indonesia," sebutnya.

    Menurut dia, melalui studi kasus di fasilitas SPBG Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat, konversi operasional dari LPG ke LNG mampu menghasilkan penghematan biaya energi hingga 26 persen bagi konsumen industri. (end/ant)