KOMITE HSC BEI KAJI METODOLOGI BUKA PELUANG UBAH DAFTAR SAHAM HSC
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
06 November 2026
30925349
IQPlus, (6/11) - Komite High Shareholding Concentration (HSC) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah melakukan kajian terhadap metodologi baru penetapan saham HSC, dan membuka peluang perubahan daftar saham kategori tersebut baik melalui penambahan maupun pengurangan emiten.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan Komite HSC yang baru saat ini tengah melakukan peninjauan secara menyeluruh, termasuk mengevaluasi metodologi yang selama ini digunakan untuk menentukan saham kategori HSC.
"Mungkin saja bisa ada (penambahan), karena komite yang baru sekarang sedang me-review seluruhnya, termasuk metodologi. Jadi, dengan metodologi yang baru nanti, sangat mungkin akan ada penambahan atau pengurangan atau perubahan jumlah saham yang ada di HSC," kata Jeffrey diwawancarai di Gedung BEI, Jakarta, Kamis.
Jeffrey mengungkapkan pembahasan mengenai perubahan metodologi dan komposisi saham HSC masih berlangsung di tingkat komite HSC.
"Itu sedang dibahas oleh Komite (HSC), nanti akan disampaikan," kata Jeffrey.
Selain mengkaji metodologi, Ia melanjutkan Komite HSC juga akan mengevaluasi saham-saham yang sebelumnya masuk dalam kategori tersebut dan dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Itu (evaluasi) bagian dari rekomendasi yang akan disampaikan oleh komite nanti," ujar Jeffrey.
BEI telah memperluas keanggotaan Komite HSC menjadi sembilan orang, dengan melibatkan pihak eksternal dan independen, diantaranya pelaku industri pasar modal, akademisi, hingga investor asing.
Rinciannya, empat anggota yang berasal dari Self-Regulatory Organization (SRO) terdiri dari dua direksi BEI, yaitu satu direksi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan satu direksi PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Sementara itu, perwakilan eksternal mencakup pelaku industri, ahli tata kelola, akademisi, serta investor asing. Kemudian, dari pelaku industri, terdapat Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Alex Widi dan Direktur Utama UBS Sekuritas, Joshua Arief Tanja. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
