BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENTERIAN PU OPTIMALKAN BENDUNGAN TAPIN KALSEL

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

12 August 2026

22334220

IQPlus, (12/8) - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengoptimalkan peran Bendungan Tapin di Kecamatan Piani Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau.

"Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan," kata Menteri PU Dody Hanggodo di Jakarta, Rabu.

Kementerian PU mengoptimalkan peran Bendungan Tapin di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dalam mengatur pemanfaatan air agar kebutuhan masyarakat, sektor pertanian dan lingkungan tetap terpenuhi secara optimal saat musim kemarau.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Menteri PU Dody Hanggodo untuk mendukung target swasembada pangan dalam menghadapi ancaman kekeringan dampak fenomena El Nino dengan menjaga ketersediaan air irigasi.

Secara teknis, Bendungan Tapin yang dikelola oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III ini berperan sebagai infrastruktur penyangga utama dalam menanggulangi deviasi iklim ekstrim akibat fenomena El Nino di wilayah Kalimantan Selatan. Saat ini volume tampungan tercatat sebesar 35.957.287 (m3)/ 68,12 persen dari kapasitas Tampungan Muka Air Normal.

Dalam menghadapi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino, Bendungan Tapin memiliki lima peran yang strategis. Pertama, optimasi pola operasi waduk (maximum storage retention).

Pengelola waduk pada Bendungan Tapin menerapkan pola operasi dengan mempertahankan ketersediaan air sesuai Rencana Tahunan Operasi Waduk atau menjaga elevasi muka pada batas operasi normal.

Kedua, menjaga kontinuitas air baku dan aliran sungai. Dengan suplai konstan pada Potensi Air Baku sebesar 500 L/s, bendungan menjaga pasokan air baku dan mempertahankan debit pemeliharaan sungai.

Ketiga, pemantauan hidrologi presisi berbasis data seketika. Operasi pengeluaran air (outflow release) disesuaikan secara dinamis dengan memperhitungkan inflow dari hulu serta pemodelan cuaca dari BMKG dan BRIN.

Keempat, penyesuaian pemanfaatan di hilir dengan memprioritaskan terlebih dahulu sesuai urutan prioritas pemenuhan/pemanfaatan air seperti mendahulukan untuk kebutuhan air baku baru kemudian untuk irigasi, kebutuhan industri, energi listrik dan pariwisata.

Kelima, mitigasi dampak sekunder (penurunan risiko kebakaran hutan dan lahan/karhutla). Rilis air teratur ke alur sungai dan saluran irigasi membantu memperkecil penurunan tinggi muka air tanah (water table) di wilayah sekitarnya. (end/ant)