BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENPERIN TERUS PERKUAT INDUSTRI MINYAK ATSIRI

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

19 August 2026

23048605

IQPlus, (19/8)- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus memperkuat struktur industri minyak atsiri nasional melalui peningkatan nilai tambah dan pengembangan produk hilir. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak atsiri utama dunia sekaligus memperluas kontribusi komoditas tersebut terhadap perekonomian nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia menunjukkan prospek yang semakin positif. Berdasarkan data perdagangan tahun 2025, nilai ekspor produk minyak atsiri Indonesia pada HS 3301 mencapai USD 348,7 juta, meningkat sekitar 34,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar USD 259,5 juta.

"Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri" ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8).

Pada 2025, Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia, setelah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil. Pada periode yang sama, nilai perdagangan ekspor minyak atsiri dunia mencapai sekitar USD 6,49 miliar, meningkat dari USD 6,29 miliar pada 2024.

Menurut Menperin, pengembangan industri minyak atsiri masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Namun, minyak nilai atau patchouli oil memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki basis produksi dan pasar ekspor yang kuat.

Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 mencapai USD 173,4 juta, meningkat sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar USD 141,3 juta. Produk tersebut telah memiliki pasar ekspor yang tersebar di berbagai negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pengembangan hilirisasi minyak nilam memiliki potensi besar yang dapat diolah melalui teknologi pemurnian dan fraksinasi menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi seperti hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, dan aromatherapy.

"Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi," ujar Putu. (end)