BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENPERIN TAMPILKAN KESIAPAN INDONESIA JADI PUSAT INDUSTRI HALAL DUNIA

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

25 September 2026

26728949

IQPlus, (25/9) - Besarnya pasar halal global membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga tampil sebagai produsen dan pemasok produk halal dunia. Dengan kekuatan industri nasional, pasar domestik yang besar, serta posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, pengembangan industri halal menjadi salah satu peluang strategis untuk memperkuat daya saing industri sekaligus memperluas pasar ekspor.

"Pasar halal dunia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada tahun 2024, konsumsi umat Muslim di enam sektor ekonomi syariah telah menembus USD2,6 triliun. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi USD3,56 triliun pada tahun 2029," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada, pembukaan Industrial Festival x Halal Indo 2026 di ICE BSD Tangerang, Kamis (24/9).

Menperin juga mengemukakan, potensi pasar di dalam negeri cukup menjanjikan. Konsumsi rumah tangga Indonesia tercatat mencapai Rp5.974,9 triliun pada semester I tahun 2026. Hal ini dipacu oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 87,14 persen populasi, yakni sebanyak 252,8 juta jiwa.

"Berbekal modal utama ini, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pasar menjadi produsen dan pemain utama industri halal dunia," ungkapnya.

Sementara itu, Berdasarkan State of The Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/26, Indonesia menempati peringkat keempat dalam ekosistem industri halal dunia, setelah Malaysia, UEA, dan Arab Saudi, serta Bahrain di peringkat kelima. Pemeringkatan SGIER sendiri didasarkan pada lima indikator utama, yaitu finansial, regulasi halal, kesadaran masyarakat, sosial, dan inovasi.

"Kita patut bangga karena Indonesia unggul pada salah satu sektor dengan bobot penilaian terbesar yakni 30 persen yaitu makanan halal, yang naik dari peringkat keempat menjadi peringkat ketiga. Selain itu, sektor terkait manufaktur lain yaitu modest fashion mempertahankan peringkat pertama dunia dengan skor 113,9 dan sektor farmasi dan kosmetik halal di posisi keempat dengan skor 72,8," tutur Agus.

Lebih lanjut Menperin menyampaikan, kinerja industri halal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga akhir semester I/2026, terdapat 2,67 juta perusahaan industri yang telah memiliki sertifikat halal. Angka ini didominasi oleh sektor makanan halal sebanyak 2,32 juta industri, diikuti oleh industri minuman halal dengan 342,09 ribu industri, serta kimia, farmasi dan obat tradisional dengan 5.341 industri.

Jumlah produk industri yang telah tersertifikasi halal mencapai 5,49 juta produk dengan total 2,76 juta sertifikat halal. Ini menandakan semakin tingginya kesadaran industri dan masyarakat akan pentingnya sertifikasi halal.

Sementara itu, daya tarik investasi di ekonomi syariah, termasuk industri halal terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, Indonesia berhasil mencatatkan diri sebagai penerima Foreign Direct Investment (FDI) terbesar ketiga di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dengan total nilai investasi mencapai USD24,2 miliar yang tersebar di 33 proyek strategis.

Berikutnya, ekspor produk halal Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2024, nilai ekspor produk halal Indonesia ke ngara-negara OKI mencapai USD12,51 miliar, tumbuh sebesar 4,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menempatkan Indonesia di urutan ke-9. Meski di sisi lain, impor produk halal Indonesia dari negara-negara OKI pada periode yang sama sebesar USD31,52 miliar, meningkat 6,22 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Kondisi ini memberi pesan penting bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak, terutama untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri agar mampu menekan ketergantungan impor. Namun, inilah momentum yang harus kita kelola agar Indonesia bisa bangkit sebagai pusat industri halal dunia," tegas Agus. (end)