BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENPERIN PERKUAT DAYA SAING IKM FESYEN DAN KRIYA

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

18 August 2026

22926362

IQPlus, (18/8) - Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM), termasuk di sektor fesyen dan kriya, agar mampu berkembang secara berkelanjutan, memperluas pasar, serta masuk ke dalam rantai pasok industri yang lebih besar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan pendampingan bisnis secara berkesinambungan kepada para wirausaha melalui program Creative Business Incubator (CBI).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, pelaku IKM tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas. Mereka juga perlu memiliki strategi bisnis yang tepat, memahami karakter konsumennya, serta mampu membangun identitas dan keunikan produk yang menjadi pembeda di pasar.

"Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi. Oleh sebab itu, kami memiliki Program Creative Business Incubator yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Ditjen IKMA yang fokus pada pengembangan sektor industri ini," kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8).

Menurut Menperin, sektor industri fesyen dan kriya memiliki prospek yang menjanjikan. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional yang menunjukkan tren positif, yakni meningkat dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025.

Kinerja ekspor sektor tersebut juga menunjukkan capaian positif. Pada periode Januari-April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD228 juta. Sementara itu, ekspor industri fesyen pakaian jadi mencapai USD2,78 miliar dan industri tekstil sebesar USD1,04 miliar.

Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi industri fesyen dan kriya untuk terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Namun, perkembangan pasar sekaligus membawa tantangan berupa persaingan yang semakin ketat sehingga pelaku industri dituntut memiliki diferensiasi produk yang kuat.

"Tantangannya adalah bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, serta menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar," ujar Agus.

Menperin meyakini, program pendampingan seperti CBI yang dilaksanakan BPIFK menjadi instrumen penting untuk memperkuat ekosistem dan rantai pasok lokal yang terintegrasi. Melalui program tersebut, para pelaku IKM diharapkan dapat saling terhubung sekaligus memiliki arah dan tujuan pengembangan bisnis yang semakin jelas.

Pada Juli 2026, BPIFK membuka Program CBI 2026 sebagai bagian dari upaya pengembangan wirausaha muda sektor industri kreatif, khususnya fesyen dan kriya. Program tersebut dirancang tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan bisnis yang terstruktur dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, program CBI dilaksanakan melalui sejumlah tahapan pendampingan dengan melibatkan akademisi serta praktisi yang kompeten di bidang fesyen dan kriya.

"Peserta akan mendapatkan kelas dengan kurikulum yang telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan wirausaha muda, serta metode pembelajaran berupa materi, diskusi, penugasan mandiri, dan evaluasi. Kami berharap program ini mampu mendukung IKM agar dapat naik kelas, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis yang berkelanjutan," ujar Reni. (end)