KEMENPERIN PACU DIVERSIFIKASI TENUN, IKM FESYEN BIDIK PASAR GLOBAL
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
03 June 2026
15329133
IQPlus, (3/6) - Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri kain tenun nasional melalui berbagai program peningkatan nilai tambah dan diversifikasi produk guna memperluas akses pasar domestik maupun ekspor. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tenun sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri kain tenun merupakan salah satu subsektor industri tekstil yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Selain sarat nilai budaya dan sejarah, kain tenun Indonesia juga memiliki keunikan yang mampu menjadi keunggulan kompetitif di pasar global.
"Biasanya di benak masyarakat, wastra Indonesia identik dengan batik. Padahal, Indonesia juga memiliki kain tenun yang eksotis dan kaya ragam. Berbagai daerah memiliki tenun dengan ciri khas masing-masing, baik dari teknik pembuatan, motif, warna, maupun bahan bakunya," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut Agus, pengembangan industri tenun tidak hanya penting dalam aspek pelestarian budaya, tetapi juga berperan dalam mendukung konsep sustainable fashion yang saat ini semakin diminati pasar global. Oleh karena itu, diperlukan berbagai langkah strategis agar produk tenun dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan secara luas.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita mengungkapkan, potensi industri tenun nasional didukung oleh keberadaan 482 sentra IKM tenun yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
"Berdasarkan data Pusdatin Kemenperin, ekspor produk tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai sebesar US$88.600. Capaian ini menunjukkan bahwa produk tenun tradisional memiliki peluang pasar internasional yang perlu terus ditingkatkan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," tutur Reni.
Meski demikian, Reni mengakui bahwa pelaku IKM tenun masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pengembangan desain dan diversifikasi produk. Perubahan tren pasar yang berlangsung cepat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin dinamis.
"Selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal dan tradisional, seperti busana pernikahan maupun upacara adat. Padahal, tenun memiliki motif, warna, dan karakter bahan yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari," jelasnya. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
