KEMENPERIN DORONG PENINGKATAN KAPASITAS INDUSTRI SUSU UNTUK MBG
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
02 June 2026
15247627
IQPlus, (2/6) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan kapasitas industri pengolahan susu guna memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 yang diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan susu ukuran 115 dan 125 mililiter.
"Program MBG tahun 2026 ini kebutuhan susu itu sebesar 4,8 miliar kemasan sedangkan kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 dan 125 mililiter itu baru 2,39 miliar atau 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan," kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa.
Kemenperin mencatat tiga perusahaan yang telah melakukan peningkatan kapasitas maupun investasi baru untuk mendukung program MBG.
Meski demikian, peningkatan kapasitas tersebut dinilai masih perlu terus diperkuat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan susu program MBG ke depan.
Menurut dia, pemerintah juga tengah mendorong koperasi untuk masuk ke sektor pengolahan susu guna memperluas kapasitas produksi susu dalam negeri.
"Kami sangat berharap industri pengolahan susu ini bisa bermitra dengan koperasi-koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi-koperasi yang ingin melakukan pengolahan untuk pemenuhan susu MBG ini," ujarnya.
Kementerian tengah menjalankan program restrukturisasi industri guna mendukung peningkatan kapasitas unit pengemasan (filling unit) pada industri pengolahan susu maupun koperasi yang ingin memproduksi susu siap saji dalam kemasan.
Melalui program tersebut, pemerintah memberikan penggantian biaya investasi hingga 35 persen untuk produk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan hingga 25 persen untuk produk dalam negeri lainnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kemenperin juga tengah melakukan digitalisasi rantai pasok susu segar nasional. Saat ini, terdapat sebanyak 96 tempat pengumpulan susu dari sembilan koperasi yang telah masuk dalam program digitalisasi pemerintah.
"Kami juga menyiapkan satu aplikasi yang semua koperasi-koperasi ini bisa mengirimkan data, sehingga kita mengetahui suplai real time susu-susu di 96 tempat pengumpulan susu ini," ungkap Merrijantij.
Ia menyebut konsumsi susu masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
