KEMENPERIN BIDIK PENGUATAN EKSPOR MANUFAKTUR RI KE MEDITERANIA
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
15 July 2026
19538274
IQPlus, (15/7) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik penguatan ekspor produk manufaktur Indonesia ke kawasan Mediterania dan Afrika Utara melalui penjajakan kerja sama dagang dengan Maroko.
"Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan tersebut untuk memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional, sekaligus memperkuat kemitraan di sektor-sektor industri masa depan seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi baru terbarukan," ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, upaya tersebut dilakukan dengan mendorong pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) guna memangkas hambatan tarif sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Selain untuk memangkas hambatan tarif dan meningkatkan daya saing produk manufaktur lokal di kawasan Mediterania, kerja sama ini diarahkan untuk mengamankan pasokan bahan baku industri strategis seperti fosfat dan aluminium.
Adapun hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko yang telah terjalin sejak 1956 menjadi fondasi bagi penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.
Indonesia memandang kemitraan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat daya saing industri nasional sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan kawasan Afrika dan sekitarnya.
Potensi perdagangan bilateral Indonesia dan Maroko didorong oleh meningkatnya ekspor berbagai produk manufaktur Indonesia ke Maroko, seperti minyak nabati, karet beserta turunannya, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, serta komoditas unggulan seperti kopi, teh, dan rempah-rempah.
Di sisi lain, Indonesia mengimpor sejumlah kebutuhan industri dari Maroko, antara lain pupuk, aluminium, tekstil, serta berbagai bahan baku manufaktur.
Disampaikan dia, dirinya telah melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri yang Membidangi Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira.
Pertemuan tersebut turut menghasilkan komitmen bersama dalam percepatan penguatan kerja sama industri halal.
Komitmen itu diwujudkan melalui penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) Sertifikasi Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) pada Mei 2026.
Ke depan, kesepakatan tersebut diharapkan dapat mempermudah produk halal Indonesia memasuki pasar Maroko tanpa melalui proses sertifikasi berulang, sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan industri halal di kedua negara.
Sebagai tindak lanjut penguatan kerja sama industri halal, Kemenperin juga mengundang Pemerintah Maroko untuk berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 yang akan diselenggarakan pada September mendatang.
Keikutsertaan tersebut diharapkan memperluas jejaring bisnis, mempertemukan pelaku industri kedua negara, serta membuka peluang investasi dan perdagangan produk halal yang lebih besar. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
