BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KAEF BANTU ELIMINIASI TB LEWAT LAYANAN TERINTEGRASI HULU KE HILIR

Terbit Pada

15 July 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 03-07-2026, 04:31:pm

19525758

IQPlus, (15/7) - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menegaskan peran strategisnya sebagai tulang punggung kesehatan nasional dengan mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir untuk mengakselerasi eliminasi Tuberkulosis (TB) pada tahun 2030.

Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto mengatakan Kimia Farma memiliki kapabilitas terintegrasi mulai dari produksi bahan baku dan obat jadi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung agenda prioritas kesehatan pemerintah dalam upaya Indonesia bebas TB pada tahun 2050.

"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," katanya dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan Global TB Report tahun 2024 dan data dari Kemenkes Indonesia 2025, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1.090.000 kasus TB dan sekitar 125.000 kematian per tahun.

Komitmen KAEF dalam eliminasi TB ditunjukkan dengan portofolio varian obat penanggulangan TB yang lengkap, yang mencakup kebutuhan untuk kategori TB Sensitif Obat (DS-TB) maupun TB Resisten Obat (DR-TB).

Beberapa sediaan sudah dalam bentuk kombinasi dosis tetap (Fixed-Dose Combination/FDC) yang didesain khusus untuk pasien dewasa maupun anak-anak. Seiring dengan tantangan resistensi dan kebutuhan terapi yang lebih efektif, KAEF terus melakukan pengembangan dan kesiapan produksi untuk inovasi terapi TB.

Salah satunya adalah produk anti-infeksi TB Moxifloxacin yang diluncurkan sejak tahun 2025. KAEF juga menyiapkan kesiapan produksi untuk mendukung implementasi regimen TB yang lebih efektif di masa mendatang.

Di sisi hulu, perusahaan mengandalkan fasilitas produksi modern di Jakarta dan Banjaran dengan kapasitas raksasa melebihi 500 juta tablet per tahun. Hal ini bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan medis, tetapi juga tentang penguatan kedaulatan farmasi nasional dan pengurangan ketergantungan pada impor bahan baku maupun obat jadi.

Tidak hanya memproduksi obat, KAEF juga turut mendukung penyediaan infrastruktur diagnostik untuk deteksi dini TB di lapangan, termasuk penyediaan fasilitas alat uji TB LAMP dan skrining berbasis X-Ray untuk mempercepat proses penapisan dini atau screening.

Didukung oleh 44 cabang di seluruh Indonesia, KAEF berharap dapat mengoptimalkan distribusi obat program JKN dan kebutuhan logistik TB tersalurkan secara konsisten, aman, dan merata, termasuk ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Sementara di ekosistem hilir KAEF memiliki lebih dari 1000 jaringan Apotek, lebih dari 350 Klinik Kesehatan, dan 65 Laboratorium Medis yang bisa menjadi pusat penanganan terpadu.

Jaringan ini berperan dalam mendukung kepatuhan terapi pasien melalui tenaga farmasis, mengelola rujukan klinis, serta mengintegrasikan data pasien secara real-time ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.

"Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan bebas TB pada tahun 2050," ujarnya pula. (end)