BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

JP MORGAN : MINIMUM HARGA SAHAM Rp1 AKAN TINGKATKAN LIKUIDITAS PASAR

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

04 September 2026

24625370

IQPlus, (4/9) - J.P. Morgan Indonesia menilai rencana penyesuaian batas minimum harga saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari saat ini senilai Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham, dapat meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar saham Indonesia.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan uji coba penyesuaian harga saham tersebut pada 22 dan 29 Agustus 2026, dan implementasinya ditargetkan pada pekan ketiga atau keempat September 2026.

"Kalau menurut saya kalau misalnya eksekusi itu (penghapusan) dilakukan, floor price Rp50 itu dilepas, harusnya meningkatkan transparansi dan likuiditas di pasar," ujar Head of Indonesia Equity Research Benny Kurniawan dalam Media Briefing bersama J.P. Morgan, di Jakarta, Kamis.

Benny mengatakan, sebagian investor masih menganggap batas minimum harga saham Rp50, akan memberikan batas bawah atau perlindungan terhadap risiko penurunan harga saham.

Padahal, menurutnya, mekanisme pasar tetap akan berjalan dan terdapat pasar negosiasi sebagai alternatif perdagangan.

"Karena banyak investor itu sekarang merasa, oh mungkin dengan adanya Rp50 itu downside-nya. Tapi kan sebenarnya nyatanya tidak seperti itu, ada mekanisme pasar negosiasi yang resmi. Jadinya kalau misalnya Rp50 ini dilepas, menurut saya sentimennya harusnya lebih positif," ujar Benny.

Benny menilai penyesuaian batas minimum harga saham tersebut dapat meningkatkan risiko penurunan harga, terutama bagi saham yang saat ini berada di level Rp50.

Namun demikian, katanya lagi, risiko tersebut merupakan bagian dari mekanisme investasi di pasar modal.

"Kalau menurut saya investor yang memang investasi di sana, ya pasar modal selalu ada risiko dan ada potensi keuntungan. Ini salah satu dari risikonya, sudah investasi di saham Rp50," ujar Benny lagi.

Pihaknya memproyeksikan penyesuaian tersebut berpotensi akan mendapatkan respons positif dari investor asing (foreign), karena pasar saham global tidak menerapkan batas harga minimum seperti yang selama ini diberlakukan di Indonesia.

"Foreign (investor) menurut saya harusnya menangkap ini lebih positif. Karena kalau kita lihat pasar modal di luar, nggak ada floor price. Penny stock gitu di AS, ada kan penny stock gitu," ujar Benny.

Saham yang diperdagangkan di bawah 5 dolar Amerika Serikat (AS) per lembar di AS umumnya disebut sebagai penny stock.

Dari Indonesia, istilah penny stock kerap merujuk pada saham lapis tiga, termasuk saham yang diperdagangkan di level Rp50 atau yang dikenal sebagai saham gocap.

Dengan penghapusan batas harga Rp50, Benny menilai mekanisme pasar dapat berjalan lebih optimal. Selain itu, investor dinilai tidak perlu khawatir mengalami kesulitan menjual saham yang dimilikinya hanya karena harga saham telah berada di level batas bawah.

"Jadinya kalau misalnya Rp50 ini turun, harusnya mekanisme pasar lebih berjalan. Dan investor yang mau beli, mereka nggak takut nggak bisa jual. Sekarang kan ada investor yang beli, mereka takut justru nggak bisa jual capitalnya di sana," ujar Benny pula. (end/ant)