BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    IRAK-UEA BERLOMBA BANGUN JALUR ALTERNATIF PIPA MINYAK

    Kategori

    Komoditi

    Terbit Pada

    09 June 2026

    15945530

    IQPlus, (9/6) - Irak dan Uni Emirat Arab mempercepat rencana perluasan jalur pipa minyak untuk menggantikan kapasitas yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz, karena data baru mengungkapkan ketergantungan mereka yang besar pada Teluk Persia.

    Minggu lalu, kabinet Irak menyetujui rencana untuk mempercepat ekspor minyak mentah melalui jaringan pipa Kurdistan-Turki, yang akan meningkatkan pengiriman yang ada lebih dari tiga kali lipat dari 220.000 barel per hari menjadi 770.000 barel.

    Rute ini menawarkan jalur alternatif melalui Kurdistan menuju pelabuhan Ceyhan di Mediterania Turki. Jika beroperasi dengan kapasitas penuh, rute ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi Irak yang bergantung pada minyak, yang menyumbang 53% terhadap PDB riilnya pada tahun 2025, menurut Bank Dunia.

    Data eksklusif yang ditunjukkan kepada CNBC oleh penyedia intelijen ekonomi QuantCube Technology mengungkapkan bahwa ekspor Irak secara keseluruhan praktis telah terhenti sejak perang dimulai, sebagai akibat dari ketergantungan geografisnya pada Selat Hormuz.

    Indikator QuantCube mengukur volume tonase bobot mati yang meninggalkan pelabuhan Irak dan UEA, yang memberikan perkiraan berat kargo yang dibawa kapal.

    "Irak berada dalam situasi yang jauh lebih rumit karena kita tahu bahwa sebagian besar, jika bukan seluruh minyaknya, melewati Selat Hormuz," kata Alan Lemangnen, ekonom senior di QuantCube, kepada CNBC dalam sebuah wawancara.

    Irak mengumumkan dalam konferensi pers pada 16 Mei bahwa mereka telah mengekspor 10 juta barel minyak melalui Selat Hormuz pada bulan April, turun dari 93 juta barel sebelum perang.

    Sementara itu, Abu Dhabi mempercepat pembangunan jalur pipa baru Barat-Timur ke Fujairah karena juga berupaya memperluas kapasitas ekspor minyaknya dan menghindari hambatan di Selat Hormuz.

    Proyek ini, yang diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2027, akan menggandakan kapasitas ekspor Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).

    Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada 15 Mei menyerukan percepatan penyelesaian jalur pipa tersebut untuk memenuhi meningkatnya permintaan energi global.

    UEA masih dapat mengekspor minyak melalui terminal lain, sehingga mengurangi dampak penutupan Selat Hormuz.

    "Jelas bahwa Irak, karena lokasinya dan ketidakmampuannya untuk mengalihkan rute, berada dalam situasi yang jauh lebih rumit daripada UEA atau Arab Saudi," tambah Lemangnen.

    "UEA masih memiliki terminal Fujairah. Meskipun telah rusak selama perang, secara teori, UEA masih memiliki infrastruktur dan kapal untuk mengekspor sejumlah besar minyak."

    Namun, bahkan alternatif yang ada pun berisiko. Pipa minyak Timur-Barat Saudi diserang oleh Iran pada bulan April, sementara Fujairah juga diserang oleh drone Iran, yang mengganggu operasi pemuatan minyak di terminal ekspor minyak mentahnya. (end/CNBC)