INDONESIA PRIORITASKAN KOLABORASI KEMBANGKAN INDUSTRI AI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
07 May 2026
12635336
IQPlus, (7/5) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan bahwa Indonesia memprioritaskan pendekatan kolaboratif dalam membangun industri kecerdasan artifisial (AI) di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Di saat negara-negara besar memperkuat kontrol terhadap teknologi, Indonesia mengambil posisi mendorong keseimbangan antara peran negara dan kolaborasi lintas sektor guna membangun ekosistem AI yang terbuka, inklusif, dan berdaya saing.
"Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga mendorong seluruh sektor industri dan pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam satu ekosistem membangun industri AI agar memberikan akses yang luas," ujar Nezar dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Nezar menegaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi pilihan strategis Indonesia di tengah kecenderungan global yang mendorong dominasi negara atas teknologi.
Pendekatan yang saat ini diambil oleh banyak negara tersebut, menurut Nezar merupakan pendekatan berisiko dan akhirnya menciptakan ekosistem yang tertutup dan tidak sehat bagi inovasi.
"Jika melihat tren global saat ini, termasuk di Amerika Serikat, terdapat pandangan bahwa negara perlu mengambil kendali lebih besar terhadap teknologi dan perusahaan teknologi. Namun, itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia karena berpotensi mengarah pada apa yang disebut sebagai fasisme teknologi," jelasnya.
Membahas konteks geopolitik global, Nezar menyoroti bahwa industri semikonduktor kini menjadi arena utama perebutan pengaruh antarnegara. Pergeseran ini menandai perubahan besar dari era energi fosil menuju era teknologi berbasis chip.
Ia mengatakan negara-negara adidaya saat ini tengah berupaya untuk saling menetapkan posisi dalam perang chip dan penguasaan pabrik semikonduktor.
Adapun dalam kondisi ini, Indonesia masih belum masuk dalam rantai pasok global industri AI dan semikonduktor. Namun potensi yang dimiliki cukup besar dan memberikan peluang yang menjanjikan.
"Indonesia memiliki sejumlah mineral penting, seperti emas, kobalt, dan nikel, yang digunakan dalam proses pembuatan semikonduktor. Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen yang dibutuhkan industri," ujar Nezar. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
