INDEF NILAI INSENTIF INFRASTRUKTUR EV DAN ENERGI BERSIH PACU EKONOMI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
12 May 2026
13136665
IQPlus, (12/5) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemberian insentif untuk pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan energi terbarukan atau bersih dapat menjadi strategi untuk memperkuat ekonomi Indonesia.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti, saat dihubungi di Jakarta, Selasa, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 5 persen yang kondisi tersebut kental dipengaruhi tantangan struktural hingga dampak perlambatan ekonomi global.
Meski demikian, stabilitas makroekonomi diperkirakan masih terjaga dengan inflasi sekitar 3 persen dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Sektor perbankan juga dinilainya tetap menjadi penopang utama perekonomian melalui fungsi intermediasi dan penyaluran kredit.
Dalam menghadapi tekanan global, dirinya menilai pemerintah perlu memperluas kebijakan insentif, termasuk untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik dapat memperkuat kepercayaan masyarakat untuk beralih ke EV sekaligus mendorong tumbuhnya investasi baru di sektor industri hijau dan energi bersih.
"Jika ingin memberikan insentif lebih besar untuk generate renewable energy sehingga penyediaan energi terbarukan lebih banyak di Indonesia. Kemudian beri insentif untuk pembangunan infrastruktur mobil listrik sehingga orang beli tidak takut mogok atau yakin bahwa mobil listrik menggunakan energi yang murah," katanya.
Selain itu, sektor perbankan dinilai tetap harus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga.
Indef juga mengingatkan adanya risiko guncangan ekonomi global yang dapat memengaruhi sektor informal dan UMKM.
Perlambatan ekonomi dunia dinilai berpotensi menekan ekspor Indonesia akibat menurunnya permintaan global dan harga komoditas unggulan seperti batu bara serta crude palm oil (CPO). (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
