INDEF : KONFLIK AS-IRAN BERPOTENSI PERLEBAR DEFISIT APBN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
02 March 2026
06055853
IQPlus, (2/3) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah berisiko memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman, saat dihubungi di Jakarta, Senin, menyatakan dampak ekonomi dari konflik ini akan masuk ke Indonesia melalui kombinasi tiga kanal utama, yaitu energi, keuangan, dan logistik.
Rizal menyoroti risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk, terutama di jalur vital Selat Hormuz, dapat menaikkan premi risiko minyak dan LNG dunia yang berdampak langsung pada biaya impor energi Indonesia.
"Bagi Indonesia yang masih berstatus net-importir minyak dan LPG, kenaikan harga global ini akan cepat mendorong inflasi melalui kenaikan ongkos transportasi, listrik, dan logistik pangan," ujar Rizal.
Ia menambahkan pelemahan rupiah akibat fase risk-off global ketika modal keluar dari pasar negara berkembang akan memperburuk tekanan. Kondisi ini membuat impor energi dalam rupiah semakin mahal.
Dari sisi fiskal, Rizal menjelaskan pemerintah menghadapi dilema antara menahan harga energi dengan konsekuensi subsidi membengkak, atau menyesuaikan harga domestik yang berisiko menekan daya beli masyarakat.
Menurut dia, kombinasi belanja negara yang naik, penerimaan melemah, dan biaya pembiayaan yang lebih mahal ini berpotensi memperlebar defisit APBN.
"Sehingga respons yang diperlukan adalah menjaga stabilitas nilai tukar, realokasi belanja non-prioritas, dan memperkuat perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran dibanding mempertahankan subsidi energi secara luas," kata Rizal. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
