BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

INDEF : KEPASTIAN PASOKAN BIJIH NIKEL JADI KUNCI HILIRISASI

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

20 July 2026

20045926

IQPlus, (20/7) - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan kepastian pasokan bijih nikel akan menjadi kunci keberlanjutan hilirisasi dalam operasional smelter tetap berjalan di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku industri pengolahan.

"Langkah pemerintah merelaksasi kuota produksi nikel dinilai menjadi koreksi penting untuk menjaga keberlanjutan program hilirisasi nasional," kata Head of Center of Industry, Trade and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho di Jakarta, Senin.

Menurut dia pemerintah melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) menyatakan penyesuaian kuota hanya diberikan kepada perusahaan yang menerapkan prinsip good corporate governance (GCG), good mining practice (GMP), serta mematuhi seluruh ketentuan dan kebijakan yang berlaku.

Menurutnya, relaksasi kuota merupakan konsekuensi dari ketidakseimbangan antara upaya menjaga harga nikel dan kebutuhan pasokan bahan baku bagi industri hilir.

"Arah kebijakannya bisa saya pahami. Ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi atas pengetatan kuota yang sebelumnya terlalu dalam," kata dia,

Ia mengatakan bahwa persoalannya kuota ditahan untuk mengangkat harga, tetapi pada saat yang sama pasokan bijih harus ditambah supaya smelter tetap jalan.

"Dua tujuan ini sulit dicapai secara bersamaan hanya melalui pengaturan kuota," kata dia.

Ia menjelaskan kebutuhan bijih nikel untuk memasok smelter pada 2026 diperkirakan mencapai 340 juta hingga 360 juta ton.

Sementara itu, pemerintah menetapkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi nikel 2026 di kisaran 260 juta hingga 270 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.

Ia menilai tambahan volume tersebut masih perlu diperbesar agar mampu menutup defisit pasokan bahan baku yang dihadapi industri pengolahan.

"Sejauh yang diumumkan, saya menilai belum cukup dan belum cukup cepat. Kekurangan bahan baku smelter tahun ini kami perkirakan di kisaran 60 hingga 100 juta ton, tergantung asumsi tingkat utilisasi," kata dia.

"Kalau relaksasi hanya berupa tambahan kecil di dalam rentang kuota yang sudah ada, tambahannya jauh lebih kecil daripada kekurangannya. Secara hitungan, langkah sekecil itu tidak akan menahan PHK yang sumbernya adalah kekurangan bahan baku puluhan juta ton," kata dia. (end)