IHSG MENGUAT USAI DATA EKONOMI POSITIF, PASAR MASIH WASPADAI TEKANAN EKSTERNAL
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
06 May 2026
12545573
IQPlus, (6/5) - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih bergerak hati-hati meskipun data makroekonomi terbaru menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi. Kondisi ini tercermin dari pergerakan pasar yang belum sepenuhnya merefleksikan fundamental ekonomi yang solid, di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,22% ke level 7.057,11 pada perdagangan Selasa (5/5/2026), melanjutkan rebound dari posisi 6.971,95 sehari sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2026 yang tumbuh 5,61% secara tahunan (YoY), melampaui proyeksi pasar.
Meski demikian, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp518,39 miliar di seluruh pasar pada hari yang sama. Sementara itu, nilai tukar rupiah tetap berada dalam tekanan dan sempat menembus level Rp17.400 per dolar AS.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penguatan IHSG masih lebih dipengaruhi sentimen global dan belum mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan.
"Masih terlalu dini untuk mengasumsikan bahwa penguatan ini akan berlanjut, mengingat aliran dana asing masih mencatatkan outflow dan belum terdapat katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar," ujarnya.
Menurut Rully, stabilitas nilai tukar menjadi faktor utama untuk menarik kembali minat investor asing. Selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor global diperkirakan tetap berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah.
Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai pertumbuhan ekonomi kuartal pertama ditopang kuat oleh belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan-Lebaran. Pertumbuhan 5,61% YoY didorong akselerasi belanja pemerintah yang meningkat sekitar 21,8% YoY, serta konsumsi domestik yang tetap solid.
Namun secara kuartalan, ekonomi masih mengalami kontraksi sekitar 0,8% QoQ yang menunjukkan adanya faktor musiman. Pertumbuhan diperkirakan akan mengalami normalisasi pada kuartal berikutnya seiring meredanya efek musiman Ramadan-Lebaran dan berkurangnya dampak frontloading fiskal.
Dari sisi eksternal, tekanan terlihat melalui perlambatan ekspor, peningkatan impor, serta kontraksi sektor pertambangan akibat pelemahan harga komoditas global. Ke depan, Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sepanjang 2026, didukung inflasi yang relatif terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid.
Meski demikian, risiko tetap perlu diwaspadai, terutama jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan harga minyak global tetap tinggi. Pasar kini menantikan sejumlah katalis penting, termasuk hasil Market Accessibility Review MSCI pada Juni 2026 serta konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
