BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

HARGA MINYAK TURUN LEBIH DARI $1 DI AWAL PERDAGANGAN KAMIS

Kategori

Komoditi

Terbit Pada

15 October 2026

28731845

IQPlus, (15/10) - Harga minyak turun lebih dari $1 pada perdagangan awal hari Kamis saat para investor menimbang risiko pasokan akibat serangan terhadap pelayaran di Selat Hormuz dibandingkan dengan upaya AS untuk memangkas biaya pengiriman minyak melalui pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun $1,39, atau 1,31%, menjadi $104,67 per barel pada pukul 01.16 GMT, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $1,02, atau 1,07%, menjadi $94,07, membalikkan kenaikan dari sesi sebelumnya.

Harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu pada sesi sebelumnya setelah kelompok Houthi menyerang kantor pusat Saudi Aramco dan Iran menyatakan sedang menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz serta menjaga harga minyak tetap tinggi.

Sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal pengangkut kargo curah kering tenggelam di dekat selat tersebut dalam 24 jam terakhir setelah terkena proyektil dalam insiden terpisah, demikian disampaikan oleh pejabat maritim pada hari Rabu.

Serangan di sekitar jalur pelayaran tersebut meningkat tajam dalam 10 hari terakhir; Iran menyatakan pihaknya meningkatkan serangan sebagai tanggapan atas blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya dan sanksi lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.

Di tengah gangguan pelayaran dan lonjakan biaya angkut ke rekor tertinggi akibat konflik yang melibatkan Iran, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal yang disebut sebagai "armada bayangan" (shadow fleet) yang selama ini mengangkut minyak dan produk minyak dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuelaguna membantu menurunkan harga, ungkap seorang pejabat AS pada hari Rabu.

Pembicaraan baru ini berfokus pada kemungkinan Amerika Serikat mengizinkan "minyak legal" untuk diangkut menggunakan kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi, kata pejabat AS tersebut.

Peningkatan produksi dari Rusia dan Timur Tengah telah menahan laju kenaikan harga. Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pada hari Rabu bahwa produksi minyak mentah Rusia meningkat sebesar 65.000 barel per hari pada bulan September menjadi 8,43 juta barel per hari, namun angka tersebut masih lebih rendah 870.000 barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya.

IEA juga menyebutkan bahwa ekspor minyak mentah dari produsen di kawasan Teluk Timur Tengah naik sebesar 4,4 juta barel per hari pada bulan September, mencapai sekitar 75% dari tingkat sebelum perang.

Di AS, persediaan minyak mentah dan distilat mengalami penurunan, sementara stok bensin meningkat pada pekan lalu, menurut sumber pasar pada hari Rabu yang mengutip data dari American Petroleum Institute.

Stok minyak mentah berkurang sebanyak 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober, kata sumber tersebut. Angka penurunan ini jauh lebih besar daripada perkiraan analis yang disurvei oleh Reuters.

"Meskipun terjadi penurunan tajam pada tingkat persediaan, harga minyak hampir tidak bereaksi. Kegagalan harga untuk naik di tengah berita yang mendukung kenaikan (bullish) mengindikasikan bahwa para investor bersikap hati-hati untuk mengejar kenaikan harga lebih lanjut dari tingkat saat ini," ungkap Haitong Futures dalam sebuah catatan pada hari Kamis. (end/Reuters)