HARGA MINYAK RABU NAIK 3 PERSEN
Share via
Category
Commodity
Published On
04 February 2026
03525176
IQPlus, (5/2) - Harga minyak melonjak sekitar 3 persen pada hari Rabu (4 Februari) setelah sebuah laporan media mengindikasikan bahwa pembicaraan yang direncanakan antara Amerika Serikat dan Iran pada hari Jumat dapat gagal.
Harga Brent berjangka ditutup lebih tinggi US$2,13, atau 3,16 persen, menjadi US$69,46 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$1,93, atau 3,05 persen, menjadi US$65,14.
AS menolak permintaan Iran untuk mengubah lokasi pembicaraan yang direncanakan pada hari Jumat, lapor Axios pada hari Rabu, mengutip dua pejabat AS. Kedua patokan minyak mentah tersebut telah berfluktuasi minggu ini antara berita tentang pembicaraan untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran dan meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz.
"Jika perang terbuka terjadi di Iran, ini dapat membahayakan pasokan minyak Iran sebesar 3,4 juta barel per hari. Namun yang lebih signifikan adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen minyak cair global," kata Ajay Parmar, direktur energi dan penyulingan di ICIS.
Premi risiko ini masih ada di pasar dan merupakan alasan utama mengapa harga saat ini tetap lebih tinggi daripada yang seharusnya ditunjukkan oleh fundamental, tambahnya.
Militer AS pada hari Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab secara "agresif", kata militer AS.
Secara terpisah, sekelompok kapal perang Iran mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman, menurut sumber maritim dan sebuah konsultan keamanan. AS dan Iran dijadwalkan mengadakan pembicaraan di Oman pada hari Jumat, menurut seorang pejabat regional.
Anggota OPEC, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui Selat Hormuz, terutama ke Asia.
Sementara itu, impor minyak Rusia India menurun pada bulan Januari, melanjutkan penurunan yang dimulai pada bulan Desember, karena kilang minyak mencari sumber alternatif karena tekanan sanksi Barat dan pembicaraan perdagangan AS-India yang sedang berlangsung, menurut sumber Reuters dan data yang menunjukkan. (end/Reuters)
Related Research
News Related
