BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

HARGA MINYAK MINGGU INI TURUN TAJAM KARENA REDANYA KETEGANGAN

Kategori

Komoditi

Terbit Pada

06 November 2026

30935875

IQPlus, (6/11) - Harga minyak diperkirakan akan mengalami penurunan tajam secara mingguan di tengah ekspektasi meredanya ketegangan terkait konflik dengan Iran, menyusul kekalahan partai Presiden AS Donald Trump dalam pemilihan umum.

Meski demikian, kekhawatiran mengenai pasokan dari Timur Tengah akibat konflik tersebut terus menahan penurunan harga lebih lanjut.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik $1,57 atau 1,6% menjadi $99,86 per barel pada pukul 02.22 GMT hari Jumat. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), naik $1,10 atau 1,22% menjadi $91,62 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut.

Walau begitu, kontrak Brent tercatat akan turun 12% sepanjang minggu ini setelah kontrak bulan Desember berakhir pada 30 Oktober sementara WTI diperkirakan turun 12,1% dalam periode yang sama.

Harga kontrak sempat anjlok awal pekan ini di tengah ekspektasi bahwa pemilihan umum Kongres AS pada hari Selasa yang mengalihkan kendali Senat dan DPR ke tangan Partai Demokrat dari Partai Republik pendukung Trump dapat meredakan ketegangan dalam konflik AS-Israel melawan Iran, yang kini telah memasuki bulan kesembilan.

Harga minyak sempat jatuh 8% pada hari Rabu saja, setelah Partai Demokrat meraih kemenangan dalam pemilihan paruh waktu, yang membuat harga berada di level terendah dalam dua bulan terakhir.

Namun, harga kembali bangkit menyusul lonjakan serangan terhadap kapal tanker pada hari Rabu dan Kamis di kawasan Teluk dan Selat Hormuz jalur laut vital bagi sebagian besar pengiriman minyak dari Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan dari wilayah tersebut.

"Harga minyak mentah kembali naik karena para pedagang menilai aksi jual pada hari Rabu sudah berlebihan," ujar Daniel Hynes, pakar strategi komoditas senior di ANZ, dalam sebuah catatan pada hari Jumat.

Ia menambahkan bahwa harga sempat tertekan menyusul kemenangan Partai Demokrat; namun, "realitas situasi yang sebenarnya mulai disadari" selama perdagangan hari Kamis. "Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan kemungkinan besar tidak akan melepaskan kendali tersebut," ujarnya, seraya menambahkan bahwa arus lalu lintas secara keseluruhan melalui Selat Hormuz saat ini berada di bawah 60% dari kapasitasnya. (end/Reuters)