GENJOT PRODUKTIVITAS KEBUN, PRODUKSI CPO DHARMA SATYA NUSANTARA TUMBUH
Share via
Terbit Pada
28 April 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 27-04-2026, 04:21:pm
11737310
IQPlus, (28/4) - PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) berhasil mengawali tahun 2026 dengan catatan operasional yang solid di sektor hulu kelapa sawit. Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, perseroan membukukan kenaikan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 2,7% secara tahunan (YoY) atau mencapai 492 ribu ton.
Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo, mengungkapkan bahwa pertumbuhan produksi ini didorong secara signifikan oleh performa kebun plasma yang tumbuh 6,2% YoY, sementara produksi kebun inti meningkat sebesar 1,8% YoY.
"Perseroan menyiapkan berbagai langkah strategis dan penuh kehati-hatian, termasuk program replanting untuk menjaga produktivitas kebun. Hingga saat ini, realisasi replanting telah mencapai sekitar 5.000-an hektar," ujar Andrianto dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Kenaikan produksi TBS tersebut berbanding lurus dengan output produk turunan sawit lainnya. Produksi Crude Palm Oil (CPO) DSNG tercatat naik 2,1% menjadi 141 ribu ton.
Selain itu, produksi Palm Kernel (PK) mengalami pertumbuhan 2,9% menjadi 27 ribu ton, serta Palm Kernel Oil (PKO) yang melonjak 5,7% menjadi 8,5 ribu ton. Dari sisi efisiensi pengolahan, DSNG mempertahankan kualitas operasional dengan tingkat ekstraksi minyak atau Oil Extraction Rate (OER) sebesar 23,32%.
Perseroan juga berhasil menjaga kadar asam lemak bebas atau Free Fatty Acid (FFA) di level yang kompetitif, yakni di kisaran 3%. Peningkatan volume produksi dan penjualan CPO yang tumbuh 18% ini menjadi faktor kunci pertumbuhan pendapatan perseroan sebesar 8% YoY menjadi Rp 2,9 triliun. Meski beban pokok penjualan ikut terkerek 10% akibat peningkatan volume produksi, DSNG tetap mampu membukukan kenaikan laba bersih sebesar 15% YoY menjadi Rp 421 miliar.
Di sisi lain, DSNG masih menghadapi tantangan pada segmen produk kayu dan energi terbarukan. Penjualan panel kayu dan engineered flooring mengalami kontraksi masing-masing sebesar 11,5% dan 63,2% akibat pelemahnya permintaan global dan ketidakpastian kebijakan tarif di Amerika Serikat. Begitu pula dengan segmen energi terbarukan yang terdampak penurunan permintaan cangkang sawit dari pasar biomassa Jepang.
Hingga akhir Maret 2026, total aset DSNG tercatat stabil di angka Rp 17,7 triliun dengan struktur ekuitas sebesar Rp 12 triliun. Melalui upaya deleveraging yang konsisten, perseroan berhasil menekan biaya bunga pinjaman, sehingga memberikan ruang lebih besar bagi pertumbuhan laba bersih di masa mendatang. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
