BCA Sekuritas
langen
Daily News

ESDM : PENGEMBANGAN ENERGI HIJAU BUTUH DUKUNGAN SEMUA PIHAK

Category

Business Economics

Published On

07 September 2026

25024764

IQPlus, (8/9) - Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan pengembangan energi hijau di Indonesia membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk dari perempuan penggerak energi bersih.

Pengembangan transisi energi, kebutuhannya tidak sekadar pemenuhan piranti teknis seperti teknologi, investasi dan kebijakan tetapi juga manusia termasuk perempuan, yang bekerja di garis depan untuk mendorong perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan, kata Eniya, dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Eniya dalam sambutan pada acara Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026 mengungkapkan hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi masih belum optimal.

Porsi energi hijau di dalam pasokan energi nasional (bauran energi) sempat menyentuh angka 18,3 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Namun pada semester I 2026 capaian bauran energi nasional untuk energi baru dan terbarukan (EBT) itu turun jadi 17,3 persen.

"Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3 persen, sekarang terkoreksi sedikit," paparnya.

Lebih jauh, Eniya juga mengapresiasi para pihak yang ikut mendorong dan terlibat aktif, baik individu maupun korporat, yang memiliki komitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Bahkan, pihaknya menyambut baik beberapa kampus yang juga terlibat dalam program tersebut.

Salah satu penerima Apresiasi EBTKE 2026 untuk kategori Women in Clean Energy adalah Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) yang memperoleh penghargaan dalam subkategori Energy Leader.

Melalui organisasinya, Mada menjalankan komitmen pengembangan energi bersih yang selama ini menjadi area male domination dengan melibatkan banyak pekerja perempuan.

"Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi," ujar Mada.

Rita Kefi dari Yayasan Humanis yang juga menerima penghargaan dalam subkategori Changemaker mengungkapkan bahwa pengembangan energi di Indonesia harus melibatkan semua pihak tanpa membedakan gender.

"Kalau berbicara tentang energi, ini tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki," kata Rita Kefi.

Berlatar fakta itu, Rita Kiefa menggunakan pendekatan goals gender exchange learning sustainability di masyarakat yang kebanyakan kaum perempuannya 30-50 persen tidak bersekolah. (end)