EKSPOR SAWIT MALAYSIA AKAN HADAPI TEKANAN AKIBAT ATURAN BARU INDONESIA
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
04 June 2026
15454693
IQPlus, (4/6) - Ekspor minyak sawit Malaysia diperkirakan akan anjlok untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juni jika pembeli lebih memilih pasokan Indonesia yang lebih murah karena perombakan pengiriman komoditas oleh Jakarta memicu dorongan untuk memindahkan kargo sebelum aturan baru sepenuhnya berlaku.
Rencana Indonesia untuk mengambil alih kendali ekspor dimulai pada 1 Juni, dengan produsen diharapkan mulai mengirimkan angka penjualan melalui perusahaan milik negara yang baru dibentuk, PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Sistem ini masih dalam fase transisi, dan perusahaan diizinkan untuk terus menangani transaksi hingga Danantara mengambil alih aktivitas ekspor tertentu paling cepat September, atau paling lambat 1 Januari 2027, kata para pejabat senior pada pekan yang berakhir 31 Mei.
Awalnya ada ekspektasi bahwa aturan baru Indonesia akan mengalihkan permintaan ke Malaysia, tetapi hal itu belum terjadi sejauh ini karena importir utama, terutama di India, telah melakukan pembelian yang cukup besar pada kuartal pertama, menurut Paramalingam Supramaniam, direktur di perusahaan pialang Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor.
"Jika Indonesia mulai meningkatkan ekspor hingga kebijakan baru sepenuhnya diterapkan, hal itu akan meningkatkan persaingan dengan Malaysia dan membebani pengirimannya," katanya.
Pergeseran ke pembelian dari Indonesia dapat menekan harga minyak sawit berjangka Malaysia, yang telah terpukul oleh ekspor yang lesu dan harga energi yang lebih rendah yang telah mengurangi daya tarik minyak tropis tersebut untuk bahan bakar nabati. Minyak sawit Indonesia saat ini memiliki harga yang lebih menarik daripada pasokan Malaysia, memberikan ruang bagi negara tersebut untuk merebut pangsa pasar, menurut para pedagang.
Ekspor Malaysia turun 6,2 persen pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 1,22 juta ton, menurut median dari 11 perkiraan dalam survei Bloomberg terhadap para eksekutif perkebunan, pedagang, dan analis. Itu adalah level terlemah sejak Februari, dan menyusul penurunan 14 persen pada April.
Menurut jajak pendapat, persediaan meningkat 2,2 persen menjadi 2,36 juta ton, sementara produksi minyak sawit mentah turun 4,9 persen menjadi 1,55 juta ton. Dewan Minyak Sawit Malaysia dijadwalkan akan menerbitkan angka resmi pada 10 Juni.
Tidak semua orang yakin bahwa ekspor akan tetap lemah.
"Untuk bulan Juni, ekspor akan pulih terutama karena penurunan harga pada bulan Mei yang mendorong importir utama untuk mengisi kembali stok setelah dua bulan sebelumnya terjadi perlambatan pembelian," kata Sathia Varqa, analis senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics di Singapura. "Ketidakpastian mengenai kebijakan ekspor Indonesia juga dapat mendorong peningkatan pembelian dari Malaysia." (end/Bloomberg)
Riset Terkait
Berita Terkait
