BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

DOOH AKAN AKUISISI 29,88% SAHAM INET SENILAI Rp2 TRILIUN

Terbit Pada

06 November 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 03-11-2026, 10:06:am

30928405

IQPlus, (6/11) - PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), emiten pengelola media luar ruang digital, mengumumkan rencana pembelian 6,685 miliar saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) atau setara 29,88% modal ditempatkan dan disetor penuh INET. Transaksi dilakukan lewat entitas anak, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), yang dimiliki Perseroan 99,99%, dengan penjual PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN). Informasi ini tertuang dalam perubahan dan/atau tambahan keterbukaan informasi kepada pemegang saham yang terbit pada 5 November 2026.

Saham INET dibeli seharga Rp300 per lembar, sehingga nilai transaksi mencapai Rp2.005.500.000.000. Angka itu setara 647,90% dari ekuitas Perseroan yang tercatat Rp309,54 miliar per 30 Juni 2026, sehingga transaksi masuk kategori transaksi material menurut POJK 17/2020 dan wajib mendapat persetujuan RUPS. Seluruh kriteria materialitas, mulai dari nilai transaksi, total aset, laba bersih, hingga pendapatan usaha INET, juga melampaui ambang 20% dari angka Perseroan. Pelaksanaannya akan melalui pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia dan diselesaikan lewat sistem C-BEST milik KSEI, paling lambat lima hari kerja setelah persetujuan RUPS diperoleh.

Dari sisi harga, Kantor Jasa Penilai Publik Toha, Okky, Heru dan Rekan menyatakan transaksi ini wajar. Penilai menggunakan rata-rata harga tertinggi saham INET selama 90 hari sebelum 30 Juni 2026, yakni Rp296 per saham. Harga transaksi hanya selisih sekitar 1,35% dari nilai tersebut dan masih dalam rentang plus minus 7,5%. Direksi dan Dewan Komisaris menegaskan transaksi ini bukan transaksi afiliasi maupun benturan kepentingan, karena tidak ada hubungan afiliasi antara Perseroan atau CNI dengan AKUN.

Setelah transaksi, tidak ada pihak yang menguasai lebih dari 50% saham INET. Kepemilikan AKUN turun menjadi sekitar 29,89%, sedikit di atas CNI, dan AKUN tetap berstatus pengendali INET. Dokumen itu menyebut pengendalian tetap berada di tangan AKUN antara lain karena Muhammad Arif, pemegang 26,15% saham AKUN sekaligus komisarisnya, menjabat direktur utama INET. CNI tidak memperoleh hak menunjuk direksi maupun komisaris INET dan tidak bertindak bersama AKUN. Karena itu, transaksi tidak mengubah pengendali INET dan tidak memicu kewajiban prosedur pengambilalihan menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas.

Soal pendanaan, pembayaran saham bersumber dari setoran modal Perseroan kepada CNI. Dana itu terdiri dari hasil penawaran umum perdana saham sebesar Rp120 miliar dan pencairan awal pinjaman dari PT Sinergi Internasional Investama (SII), pemegang saham pengendali Perseroan, sebesar Rp1.885,5 miliar. Total pencairan awal pinjaman SII mencapai Rp2 triliun dari plafon maksimal Rp5 triliun. Beban bunganya sekitar 7,5% per tahun, atau kurang lebih Rp150 miliar per tahun untuk pencairan awal, dan bisa naik sampai sekitar Rp375 miliar per tahun bila seluruh plafon ditarik.

Berdasarkan informasi keuangan proforma per 30 Juni 2026, total aset Perseroan naik dari Rp406,51 miliar menjadi Rp2.406,51 miliar, sementara total liabilitas melonjak dari Rp96,97 miliar menjadi Rp2.096,97 miliar. Rasio liabilitas terhadap ekuitas bergerak dari 0,31 kali menjadi 6,77 kali. Jika seluruh plafon pinjaman ditarik, rasio itu diperkirakan menyentuh 16,47 kali. Perseroan berencana melunasi dan/atau mengonversi pinjaman lewat penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) agar rasio tersebut turun, di samping akan mengakui bagian laba INET sebesar 29,88% dengan metode ekuitas.

Manajemen menyebut akuisisi ini sejalan dengan arah baru Perseroan setelah SII menjadi pengendali pada 30 Juli 2026, yakni infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas, pusat data, dan infrastruktur kecerdasan buatan. Perseroan ingin membangun ekosistem AI melalui lima pilar: AI Data Centre, internet berkecepatan tinggi, serat optik, kabel bawah laut, dan energi hijau atau PLTS. INET dinilai relevan karena total asetnya sekitar Rp6,11 triliun, sekitar 19,6 kali aset Perseroan. Per semester I 2026, INET membukukan pendapatan Rp926,45 miliar dan laba periode berjalan Rp34,21 miliar, serta menjalankan bisnis penyedia layanan internet, pengembangan pusat data, dan kabel bawah laut lewat anak usahanya. Perseroan juga melihat potensi kemitraan jaringan dengan bisnis medianya, termasuk jaringan Free WiFi Ads di 80 stasiun dan 304 layar informasi di gerbong KRL.

Rencana transaksi ini akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB yang digelar Senin, 9 November 2026, pukul 14.00 WIB di Hotel Mercure Batavia, Jakarta Barat, sekaligus secara elektronik lewat eASY.KSEI. Persetujuan akuisisi saham INET menjadi mata acara kesembilan. Rencana pencairan pinjaman SII dibahas sebagai mata acara kedelapan dan diputuskan dalam RUPS Independen, di mana SII dan pihak terafiliasinya tidak berhak memberikan suara. Selain restu RUPSLB, pelaksanaan transaksi masih membutuhkan persetujuan Menteri Hukum atas peningkatan modal dasar CNI, yang kini Rp2,4 miliar sementara setoran modal yang direncanakan Rp120 miliar. (end)