BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

DOLAR AS DEKATI LEVEL TERENDAH BEBERAPA BULAN RABU INI

Kategori

Komoditi

Terbit Pada

19 August 2026

23031968

IQPlus, (19/8) - Dolar AS bergerak mendekati level terendah dalam beberapa bulan terhadap mata uang utama lainnya pada hari Rabu seiring melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) dari level tertinggi baru-baru ini; para investor kini menantikan risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga.

Euro sedikit menguat ke level $1,1577, tetap berada di dekat level tertinggi dua bulan yang sempat dicapai awal pekan ini.

Nilai tukar poundsterling (sterling) relatif stabil di angka $1,3533, bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan menjelang rilis data inflasi Inggris pada hari Rabu ini, yang diperkirakan secara luas akan menunjukkan tekanan harga yang persisten.

Yen Jepang juga tidak banyak berubah di posisi 159,56 per dolar setelah sebagian besar penguatan akibat intervensi pasar sebelumnya kembali terkikis, namun nilainya masih jauh dari level terendah dalam beberapa dekade di kisaran 164.

Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun tipis ke angka 99,65.

Aksi jual obligasi pemerintah AS tampaknya telah mereda di tengah pekan yang minim data ekonomi maupun katalis pasar yang signifikan. Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun melanjutkan penurunannya dan terakhir berada di level 4,702%, sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun menjadi 5,282%.

Pelaku pasar kini beralih menantikan rilis risalah rapat terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) komite penentu kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan keluar hari ini, guna mencari petunjuk mengenai pandangan para pembuat kebijakan terkait suku bunga.

Data yang dirilis dalam beberapa pekan terakhir mengindikasikan kondisi ekonomi AS yang melambat, termasuk hilangnya lapangan kerja secara tak terduga pada bulan Juli dan angka inflasi yang moderat, sehingga mendorong investor untuk mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga.

"Jika The Fed tidak merealisasikan kenaikan suku bunga yang selama ini telah diantisipasi pasar, maka potensi kenaikan imbal hasil obligasi seharusnya sangat terbatas pada saat ini," ujar Harvinder Kalirai, kepala strategi pendapatan tetap (fixed income) dan mata uang global di Alpine Macro, dalam sebuah webcast untuk klien. "Pasar tenaga kerja dan kejutan inflasi mulai melandai; hal ini biasanya bertepatan dengan menyempitnya keunggulan imbal hasil dolar, yang pada gilirannya menyebabkan pelemahan nilai tukar dolar."

Sementara itu, kebuntuan situasi di Timur Tengah mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam hampir tiga minggu, sehingga risiko inflasi tetap ada.

Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, bertolak belakang dengan klaim Iran yang menyebut jalur perairan tersebut masih tertutup bagi pelayaran.

Di sisi lain, nilai tukar dolar Selandia Baru dan dolar Australia tidak banyak berubah, masing-masing diperdagangkan pada level $0,5874 dan $0,7083. (end/Reuters)