DKFT TEKAN BEBAN POKOK 13% DI TENGAH PENYESUAIAN KUOTA TAMBANG
Share via
Terbit Pada
30 April 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 25-03-2026, 03:01:pm
11939662
IQPlus, (30/4) - PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menunjukkan resiliensi operasional yang kuat pada awal tahun 2026. Meski harus melakukan penyesuaian volume produksi demi mematuhi regulasi pemerintah, emiten pertambangan nikel ini justru berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 74% secara tahunan (YoY).
Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, produksi bijih nikel perseroan tercatat sebesar 554 ribu metrik ton (MT). Angka ini mengalami penurunan sekitar 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 996 ribu MT. Penurunan ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam menyesuaikan operasional dengan ketentuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang baru guna memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi pemerintah.
Meskipun volume produksi dan penjualan (754 ribu MT) terkoreksi, perseroan berhasil menjaga kualitas pendapatan melalui strategi bauran produk (product mix) yang tepat sasaran. Komposisi penjualan didominasi oleh Limonit sebesar 58%, sementara Saprolit berkontribusi sebesar 42%.
Feni Silviani Budiman, perwakilan Direksi Perseroan, menjelaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah pada efisiensi operasional dan optimalisasi produk. "Fokus kami pada kuartal ini adalah kualitas pendapatan melalui optimalisasi bauran produk dan efisiensi biaya. Meskipun kami melakukan penyesuaian volume produksi mengikuti regulasi RKAB terbaru, fundamental keuangan kami tetap solid," ujar Feni dalam keterangan resminya, Kamis (30/4).
Disiplin biaya menjadi kunci utama keberhasilan DKFT. Hal ini tercermin dari beban pokok penjualan yang berhasil ditekan hingga 13%, yakni dari Rp201 miliar pada Q1-2025 menjadi Rp174 miliar pada Q1-2026. Efisiensi ini, ditambah dengan kenaikan pendapatan sebesar 20%, mendorong laba bersih perusahaan meroket ke angka Rp237 miliar dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp136 miliar. Secara keseluruhan, kinerja operasional yang adaptif ini memperkuat posisi keuangan perusahaan dengan EBITDA yang menguat 57% menjadi Rp335 miliar. Capaian ini memberikan sinyal positif bagi pemegang saham bahwa efisiensi produksi mampu menutupi tantangan pembatasan kuota operasional. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
