BTEK TARGETKAN PEMULIHAN LEWAT PASAR KAKAO PREMIUM DI TAHUN 2026
Share via
Terbit Pada
15 June 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 07-05-2026, 04:32:pm
16535895
IQPlus, (15/6) - PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) mengakui bahwa kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 masih menghadapi tantangan berat. Emiten yang kini fokus pada industri pengolahan kakao melalui entitas anak PT Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) tersebut mencatat penurunan pendapatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pihak manajemen saat ini terus melakukan evaluasi terhadap seluruh strategi operasional dan komersial demi mendorong perbaikan kinerja pendapatan pada periode mendatang.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan teranyar, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp72,02 miliar pada akhir Desember 2025. Angka tersebut merosot tajam dari perolehan pendapatan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2024 yang mampu mencapai Rp635,63 miliar.
Manajemen menjelaskan bahwa penurunan drastis ini utamanya dipicu oleh melemahnya aktivitas operasional perusahaan serta adanya penyesuaian strategi bisnis yang secara langsung berdampak pada penurunan volume penjualan. Sejalan dengan penurunan pendapatan, total aset Perseroan per 31 Desember 2025 juga terkoreksi menjadi Rp3,51 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp3,89 triliun pada akhir tahun 2024. Penurunan total aset ini disebabkan oleh berkurangnya aset lancar secara signifikan menjadi Rp48,12 miliar dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp163,88 miliar, serta adanya penyesuaian nilai atas goodwill dan penurunan aset tidak lancar lainnya.
Kendati demikian, penurunan tersebut sedikit terimbangi oleh kenaikan aset tetap dari Rp1,92 triliun menjadi Rp1,97 triliun berkat realisasi belanja modal berkelanjutan untuk operasional. Dari sisi kewajiban, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk mencatatkan total liabilitas sebesar Rp3,23 triliun per 31 Desember 2025, turun tipis dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp3,43 triliun. Penurunan ini terjadi baik pada liabilitas jangka pendek maupun jangka panjang. Liabilitas jangka pendek menyusut dari Rp69,97 miliar menjadi Rp7,75 miliar karena adanya penyelesaian utang usaha, pelunasan uang muka pelanggan, dan beban akrual.
Sementara itu, liabilitas jangka panjang turun dari Rp3,36 triliun menjadi Rp3,22 triliun karena pembayaran pinjaman terjadwal, penyelesaian saldo pihak berelasi, serta penurunan liabilitas pajak tangguhan. Memasuki tahun 2026, Perseroan melihat adanya prospek cerah seiring dengan industri kakao yang mulai memasuki periode pemulihan dan ekspansi yang menjanjikan. Kondisi ini ditandai oleh membaiknya pasokan global, meningkatnya permintaan produk bernilai tambah, serta adanya kebijakan pemerintah nasional yang mendorong revitalisasi sektor kakao. Momentum pertumbuhan pasar premium dan produk bernilai tambah inilah yang akan dibidik oleh perusahaan sebagai penggerak utama bisnis ke depan.
Untuk menangkap peluang tersebut, Perseroan telah menetapkan sejumlah fokus strategi, mulai dari penguatan keunggulan operasional melalui optimalisasi kapasitas produksi hingga perluasan jangkauan pasar ekspor pada segmen produk kakao premium. Di samping itu, strategi keuangan akan difokuskan pada penguatan pengelolaan likuiditas, perbaikan struktur modal, serta pengendalian biaya secara lebih efektif dan efisien. Langkah-langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen Perseroan untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
