BRI : UMKM TOPANG KETAHANAN BISNIS DI TENGAH GEJOLAK GLOBAL
Share via
Terbit Pada
30 April 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 30-04-2026, 03:20:pm
11949759
IQPlus, (30/4) - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Hery Gunardi memastikan perseroan terus mencermati potensi risiko secara prudent, khususnya pada portofolio kredit di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik khususnya di kawasan Timur Tengah.
Pihaknya melihat bahwa struktur bisnis perseroan yang berbasis pada segmen UMKM, justru memberikan tingkat resiliensi (ketahanan) yang relatif baik, seiring karakteristiknya yang bersifat granular dan tidak terpusat pada satu segmen tertentu.
"Dan jumlahnya juga kecil-kecil ya, beda dengan korporasi kalau satu loan itu bisa triliunan, ini kan tidak terlalu besar," ujar Hery dalam Taklimat Media Kinerja Keuangan BRI Kuartal I 2026 secara daring di Jakarta, Kamis.
Dari sisi risiko, ia memastikan tetap akan melakukan pemantauan secara ketat terhadap beberapa sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap ketidakpastian di tingkat global.
"Seperti sektor yang berkaitan dengan komoditas ekspor misalnya, kemudian sektor yang terdampak langsung oleh fluktuasi, energi, dan juga nilai tukar. Ini juga menjadi perhatian kita," ujar Hery.
Hingga saat ini, ia memastikan kualitas aset perseroan tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang stabil dan Loan at Risk yang terus menunjukkan perbaikan.
Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari penerapan manajemen risiko yang disiplin, termasuk selective growth, monitoring portofolio secara berkelanjutan, serta penguatan early warning signal.
"Jadi kita juga menempatkan peran manajemen risiko itu ada di depan ya. Manajemen risiko tentunya di awal akan menentukan RAC (Risk Acceptance Criteria). Jadi bisnis itu akan masuk ke segmen mana saja, kemudian sub segmen mana saja dengan RAC yang terukur dan terjaga," ujar Hery.
Ke depan, pihaknya memastikan perseroan akan terus memperhatikan dan mendorong prinsip kehati-hatian atau prudential banking, serta good corporate governance (GCG) dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.
Per kuartal I-2026, BRI membukukan laba bersih senilai Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,74 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Kinerja perseroan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang mencapai Rp52,83 triliun pada kuartal I 2026, atau tumbuh 5,94 persen (yoy). Di sisi lain, beban bunga justru turun 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun pada periode sama, sehingga memperlebar margin bunga bersih bank. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
