BONUS DEMOGRAFI JAKARTA DINILAI BELUM DIDUKUNG HUNIAN DAN TRANSPORTASI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
07 May 2026
12642490
IQPlus, (7/5) - Dominasi generasi muda di Jakarta dinilai menjadi peluang besar sekaligus tantangan bagi masa depan ibu kota. Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai bonus demografi yang dimiliki Jakarta belum sepenuhnya didukung oleh ekosistem kota yang mampu menunjang produktivitas generasi muda.
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta mencapai sekitar 10,72 juta jiwa. Generasi milenial tercatat menjadi kelompok terbesar dengan porsi 24,82 persen. Jika digabung dengan Generasi Z dan post Generasi Z, kelompok usia muda mencapai sekitar 66,72 persen dari total populasi Jakarta.
Menurut Achmad, struktur demografi tersebut seharusnya menjadi modal besar bagi Jakarta untuk tumbuh sebagai pusat inovasi dan ekonomi kreatif. Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan sektor digital, usaha rintisan, jasa profesional, kuliner, logistik, hingga ekonomi berbasis platform. Namun, berbagai persoalan perkotaan dinilai masih menjadi hambatan utama.
Ia menyoroti tingginya biaya hidup, mahalnya harga hunian, panjangnya waktu tempuh perjalanan, serta terbatasnya lapangan kerja formal sebagai tantangan serius yang dihadapi generasi produktif di Jakarta. Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus kemampuan generasi muda untuk meningkatkan keterampilan, menabung, maupun membangun usaha.
Persoalan hunian menjadi salah satu perhatian utama. Banyak pekerja muda dinilai tidak mampu tinggal dekat dengan pusat aktivitas ekonomi karena harga sewa dan properti yang tinggi. Akibatnya, mereka harus tinggal jauh dari tempat kerja dan mengeluarkan biaya transportasi yang besar setiap bulan.
Selain itu, Achmad menilai sistem transportasi Jakarta masih perlu diperkuat dari sisi integrasi dan efisiensi. Menurutnya, waktu tempuh yang panjang bukan hanya berdampak pada produktivitas ekonomi, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup masyarakat. Ia menyebut kota yang baik adalah kota yang mampu mendekatkan pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik kepada warga.
Di sisi lain, ruang ekonomi dan ruang kreatif bagi anak muda dinilai masih terbatas. Achmad menilai pemerintah perlu memperbanyak coworking space terjangkau, pusat pelatihan digital, inkubator bisnis, hingga ruang komunitas kreatif untuk mendukung pertumbuhan usaha anak muda. Ia juga mendorong agar aset pemerintah yang tidak produktif dapat dimanfaatkan sebagai pusat ekonomi kreatif dan pengembangan UMKM.
Achmad menegaskan bahwa bonus demografi tidak akan otomatis menjadi berkah apabila Jakarta gagal menyediakan hunian terjangkau, transportasi efisien, ruang kreatif, dan pekerjaan layak bagi generasi mudanya. Menurutnya, masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan gedung tinggi, tetapi juga kemampuan kota menjaga generasi produktifnya agar tetap mampu tinggal, bekerja, dan berkarya secara layak. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
