BLOOMBERG PROYEKSIKAN EKONOMI RI TUMBUH STABIL DI 2026
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
06 January 2026
00527342
IQPlus, (6/1) - Bloomberg Intelligence memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil, dengan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,0 persen year on year (yoy) dan inflasi di level 2,75 persen (yoy) pada 2026.
Di sisi lain, pasar obligasi berpotensi menghadapi tekanan lanjutan akibat tingginya kebutuhan penerbitan surat utang dan risiko fiskal, sebagaimana tertuang dalam laporan bertajuk "Indonesia in Focus: Review and Outlook for 2026" itu.
"Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan kisaran 5,0 persen pada 2025 hingga 2027, dengan probabilitas resesi dalam 12 bulan ke depan hanya sekitar 3 persen," sebut Bloomberg Intelligence, sebagaimana keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Laporan tersebut mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 22 persen sepanjang 2025, yang menjadi kinerja tahunan terkuat sejak 2014.
"Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya partisipasi investor ritel domestik yang mencari imbal hasil lebih tinggi,"Sebut laporan.
Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan signifikan, dengan arus masuk asing ke Surat Berharga Negara (SBN) hampir sepenuhnya tergerus, dengan net inflow turun menjadi hanya 25 juta dolar Amerika Serikat (AS) dari puncaknya senilai 4,6 miliar dolar AS pada Agustus 2025.
"Kekhawatiran terhadap outlook fiskal mendorong investor global menarik dananya dari pasar obligasi Indonesia," tulis Bloomberg.
Selain itu, tekanan juga terlihat pada nilai tukar (kurs) rupiah yang melemah ke level terendah dalam delapan bulan di level Rp16.790 per dolar AS, seiring defisit anggaran mendekati batas 3 persen terhadap PDB.
Namun demikian, laporan mencatat Bank Indonesia (BI) tetap menargetkan rupiah berada di kisaran Rp16.500, bahkan Rp16.400 per dolar AS pada 2026.
"Bank Indonesia memberi sinyal pelonggaran kebijakan secara hati-hati pada 2026, dengan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama," sebut laporan. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
