BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    BIO FARMA TEGASKAN KOMITMEN KEMANDIRIAN VAKSIN OKI

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    12 February 2026

    04239457

    IQPlus, (12/2) - PT Bio Farma (Persero) menjadi salah satu narasumber dalam 4th Meeting of the OIC Vaccine Manufacturers Group (OIC VMG) yang digelar Standing Committee for Scientific and Technological Cooperation of OIC pada 9-10 Februari 2026 di Islamabad, Pakistan.

    Forum ini mempertemukan produsen vaksin dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk memperkuat kemandirian produksi vaksin serta membangunarsitektur keamanan kesehatan kolektif dunia Islam.

    Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara di tengah tantangan kesehatan global, termasuk ketergantungan impor dan risiko gangguan rantai pasok pascapandemi.

    Acara ini dihadiri Menteri Layanan Kesehatan Nasional, Regulasi dan Koordinasi Pakistan Syed Mustafa Kamal, Assistant Secretary-General OIC Bidang Sains dan Teknologi Aftab Ahmad Khokher, serta Coordinator General COMSTECH Prof. Dr. Muhammad Iqbal Choudhary.

    Turut hadir pula perwakilan WHO, Islamic Development Bank (IsDB), SESRIC, SMIIC, regulator vaksin, pelaku industri manufaktur, serta pakar kesehatan dari berbagai negara anggota OKI.

    Dalam sambutannya, Syed Mustafa Kamal menegaskan pentingnya penguatan kapasitas produksi vaksin di negara-negara OKI.

    Ia menyampaikan bahwa Pakistan saat ini masih mengandalkan 13 vaksin impor dan menargetkan pengembangan kapasitas produksi dalam negeri pada 2030 melalui kolaborasi strategis antar negara anggota OKI.

    Ia juga mengusulkan pembentukan aliansi vaksin antar negara OKI guna menjawab kebutuhan hampir 1,9 miliar penduduk yang tinggal di negara-negara Islam.

    Coordinator General OIC-COMSTECH, Muhammad Iqbal Choudhary menekankan bahwa pengalaman pandemi COVID-19 dan gangguan rantai pasok global membuktikan bahwa kemandirian vaksin merupakan kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan, khususnya bagi negara-negara dengan beban penyakit tinggi dan pertumbuhan populasi yang pesat.

    Dari 57 negara anggota OKI, saat ini hanya sekitar 10 negara yang memiliki fasilitas produksi vaksin, dan dari jumlah tersebut hanya dua negara yang produknya telah memperoleh pengakuan WHO, yakni Senegal dan Indonesia.

    Dalam 4th Meeting OIC VMG ini, Kepala Departemen International Relation Bio Farma Astri Rahmawati menyampaikan bahwa penguatan kapasitas manufaktur vaksin di kawasan OKI harus dibangun melalui pendekatan kolaboratif dan terstruktur.

    "Bio Farma meyakini bahwa kemandirian vaksin di kawasan OKI hanya dapat dicapai melalui sinergi yang mencakup penguatan fasilitas produksi, transfer teknologi, harmonisasi standar mutu, serta pengembangan sumber daya manusia. Indonesia melalui Bio Farma siap menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem manufaktur vaksin yang berkelanjutan dan berstandar internasional di negara-negara OKI," ujar Astri. (end)