BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    BI PASTIKAN CADEV LEBIH DARI CUKUP MESKI SUSUT SEJAK AWAL TAHUN

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    18 May 2026

    13825073

    IQPlus, (19/5) - Bank Indonesia (BI) memastikan posisi cadangan devisa (cadev) lebih dari cukup meski menyusut sejak awal tahun 2026 seiring peningkatan intensitas intervensi valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

    "Kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Ukurannya apa? IMF itu ada indikator kecukupan cadangan devisa, itu kami ukur," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

    Berdasarkan catatan BI, posisi cadangan devisa turun 8,4 miliar dolar AS dari 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026 menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026. Adapun pada akhir Desember 2025, posisi cadangan devisa tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS.

    Perry menjelaskan, peningkatan intensitas intervensi dilakukan di pasar domestik maupun luar negeri untuk meredam gejolak global yang memicu tekanan terhadap rupiah. Langkah tersebut turut menyebabkan penurunan cadangan devisa sekitar 10 miliar dolar AS apabila dibandingkan posisi akhir 2025.

    Namun, ia menegaskan intervensi tidak seluruhnya dilakukan melalui transaksi tunai di pasar spot. Bank sentral juga mengoptimalkan instrumen swap, hedging, dan forward sehingga tekanan terhadap cadangan devisa dapat ditekan.

    "Penurunan cadangan devisa yang sekitar 10 miliar dolar AS itu baru sebagian saja dari intervensi tunai. Karena sebagian besar, lebih dari dua per tiga itu adalah secara swap dan hedging, supaya tidak semuanya menguras cadangan devisa," kata Perry.

    Selain intervensi valas, BI juga memperkuat bauran kebijakan melalui kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk.

    Perry menyebut, imbal hasil (yield) SRBI tenor 12 bulan tercatat naik menjadi kisaran 6,45 persen, sedangkan tenor 9 bulan sekitar 6,31 persen.

    Sepanjang kuartal I 2026, terjadi arus modal keluar (outflow) dari pasar keuangan domestik, masing-masing sebesar Rp26,06 triliun dari pasar saham dan Rp25,10 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).

    Sementara instrumen SRBI yang sempat mencatat inflow pada Januari-Februari, kemudian mulai mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi global.

    Menurut Perry, kenaikan yield SRBI mulai mendorong arus modal asing kembali masuk. Pada April 2026, SRBI mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun dan bertambah Rp27,05 triliun hingga 8 Mei 2026, sehingga total inflow April hingga awal Mei mencapai Rp75,31 triliun.

    Secara kumulatif sejak awal tahun, inflow SRBI mencapai Rp105,16 triliun dan dinilai mampu membantu mengompensasi tekanan outflow yang terjadi pada instrumen lain.

    Perry juga mencatat bahwa pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat sebesar Rp13,36 triliun pada April 2026. Sementara pasar saham masih mencatat outflow secara (year to date/ytd) meski pada pekan pertama Mei 2026 mulai terjadi inflow sebesar Rp10,9 triliun.

    Menurutnya, langkah penguatan instrumen SRBI diperlukan agar net inflow tetap terjaga dan pasokan valas di dalam negeri meningkat.

    Perry pun memperkirakan peningkatan kebutuhan valas secara musiman akan mulai menurun pada Juli-Agustus 2026 sehingga intensitas intervensi dapat dikurangi secara bertahap. (end/ant)