BETONJAYA MANUNGGAL (BTON) KEJAR TARGET PENJUALAN RP137,5 MILIAR DI 2026
Share via
Terbit Pada
04 June 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 05-05-2026, 10:11:am
15452356
IQPlus, (4/6) - PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) menetapkan target kinerja yang optimistis untuk tahun buku 2026. Emiten produsen baja tulangan beton polos ini membidik angka penjualan sebesar Rp137,5 miliar hingga akhir tahun, dengan target keuntungan setelah pajak berada di kisaran 3% hingga 5% dari total penjualan.
Hingga periode Maret 2026 (Kuartal I/2026), perseroan mencatatkan awal yang positif dengan merealisasikan penjualan sebesar Rp30,7 miliar. Dari penjualan tersebut, emiten berkode saham BTON ini berhasil mengantongi laba setelah pajak sebesar Rp6,9 miliar, atau setara dengan 22,36% dari total penjualan kuartal pertama. Angka profitabilitas ini tercatat lebih tinggi dari estimasi rentang target tahunan yang ditetapkan oleh manajemen.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu (31 Maret 2025), penjualan perseroan tercatat sebesar Rp26,2 miliar dengan perolehan laba bersih sebesar Rp0,9 miliar. Pertumbuhan pada kuartal pertama 2026 ini didorong oleh kontribusi penjualan besi beton yang mencapai Rp12,81 miliar (1.568,6 metrik ton), disusul oleh segmen waste plate sebesar Rp9,85 miliar (1.697,5 metrik ton), serta segmen missroll dan lainnya sebesar Rp7,99 miliar (1.528,2 metrik ton).
Dari sisi posisi keuangan per 31 Maret 2026, jumlah aset BTON tercatat sebesar Rp459,1 miliar, meningkat dari posisi Rp444,8 miliar pada akhir Desember 2025. Sementara itu, ekuitas perseroan berada di angka Rp310,8 miliar dan total liabilitas terkendali di level Rp148,3 miliar (terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp146,3 miliar dan jangka panjang Rp2,0 miliar).
Strategi dan Tantangan Operasional
Untuk mengamankan target penjualan Rp137,5 miliar hingga akhir tahun, jajaran manajemen BTON terus menerapkan sejumlah strategi taktis. Di antaranya adalah aktif membina hubungan dan mendatangi pelanggan potensial demi perluasan pasar, serta meningkatkan pengawasan anggaran dan efisiensi biaya operasional secara ketat, khususnya pada biaya energi dan perawatan mesin produksi. Perseroan juga menerapkan kebijakan menyortir bahan baku yang kurang efisien atau tipis untuk segera dijual kembali.
Kendati demikian, manajemen mengonfirmasi adanya sejumlah risiko usaha yang diantisipasi. Salah satu kendala utama adalah terbatasnya sumber pasokan bahan baku. Saat ini, karakteristik mesin produksi perseroan dinilai lebih efisien jika menggunakan bahan baku berupa waste plate yang dipasok oleh perusahaan afiliasi, yaitu PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Selain ketergantungan pasokan, faktor eksternal seperti risiko kebijakan pemerintah, persaingan ketat dari produsen sejenis, serta ketidakstabilan ekonomi domestik turut menjadi perhatian penuh manajemen.
Melihat prospek ke depan, manajemen BTON tetap optimistis bahwa pasar nasional masih menjanjikan. Pertumbuhan penduduk Indonesia secara langsung memicu kebutuhan terhadap kawasan tempat tinggal dan perumahan. Produk utama perseroan, berupa baja tulangan beton polos, dinilai sangat cocok dan terserap optimal untuk kebutuhan pembangunan residensial skala kecil hingga menengah. Jajaran manajemen menegaskan akan terus berupaya maksimal menjaga ritme kerja demi mencapai target operasional dan finansial yang telah dicanangkan sepanjang tahun 2026. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
