BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

BANK NEO COMMERCE BAGIKAN LIMA LANGKAH SEDERHANA CEGAH SCAM DI ERA DIGITAL

Terbit Pada

26 August 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 19-06-2026, 04:43:pm

23750098

IQPlus, (26/8) - Perkembangan teknologi digital mempermudah masyarakat dalam berkomunikasi dan melakukan transaksi keuangan. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti dengan meningkatnya risiko kejahatan siber, termasuk penipuan digital atau scam.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan, kerugian akibat spam dan scam di Indonesia mencapai sekitar Rp7,5 triliun berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance (GASA). Pemerintah menilai tren tersebut terus meningkat sehingga perlindungan konsumen digital perlu diperkuat, termasuk melalui penerapan sistem anti-scam di sektor telekomunikasi dan layanan digital.

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 432.637 laporan penipuan sejak beroperasi pada 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun, sedangkan dana yang berhasil diblokir mencapai Rp436,88 miliar.

Modus penipuan digital juga semakin beragam. Pelaku dapat menyamar sebagai pihak atau perusahaan tertentu, menawarkan hadiah atau investasi, hingga menyebarkan tautan palsu untuk mencuri data pribadi.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan upaya pemberantasan scam perlu dilakukan tidak hanya setelah penipuan terjadi, tetapi juga melalui langkah pencegahan.

"Pemberantasan scam bukan hanya tentang bagaimana kita merespons ketika penipuan terjadi, tetapi bagaimana kita membangun sistem yang mampu mencegahnya sejak awal," ujar Eri.

Menurut Eri, sebagai bank yang menyediakan layanan digital, Bank Neo Commerce memiliki tanggung jawab untuk memperkuat teknologi keamanan, meningkatkan kemampuan mendeteksi transaksi mencurigakan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat.

Di tingkat individu, Bank Neo Commerce membagikan lima langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan digital.

Pertama, lebih berhati-hati dalam mempercayai informasi. Masyarakat disarankan tidak langsung percaya terhadap informasi, tawaran, atau permintaan yang datang secara tiba-tiba. Verifikasi perlu dilakukan sebelum mengambil tindakan, terutama jika menyangkut transaksi atau data pribadi.

Kedua, menghindari tautan mencurigakan. Tautan yang dikirim melalui SMS, WhatsApp, email, maupun media sosial dapat mengarahkan pengguna ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi. Masyarakat disarankan memastikan alamat situs berasal dari sumber resmi sebelum membukanya.

Ketiga, melindungi data rahasia. Informasi seperti One Time Password (OTP), kode verifikasi, dan informasi kartu merupakan data pribadi yang tidak boleh diberikan kepada pihak lain, termasuk pihak yang mengaku sebagai bank atau penyedia layanan resmi.

Keempat, melakukan verifikasi sebelum transfer. Jika menerima permintaan pembayaran atau transfer yang mencurigakan, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru melakukan transaksi. Konfirmasi dapat dilakukan melalui kontak resmi pihak yang bersangkutan untuk memastikan permintaan tersebut benar.

Kelima, melaporkan dan memblokir akun mencurigakan. Masyarakat yang menemukan indikasi scam disarankan menyimpan bukti, seperti tangkapan layar, nomor telepon, rekening, atau akun yang digunakan pelaku. Bukti tersebut kemudian dapat dilaporkan melalui platform terkait maupun kanal resmi yang tersedia.

Eri mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman dengan menerapkan kelima langkah tersebut.

"Lebih berhati-hati dalam mempercayai sesuatu, hindari sembarang mengklik tautan, jangan pernah membagikan data rahasia, selalu melakukan verifikasi sebelum bertransaksi, dan segera melaporkan jika menemukan indikasi penipuan," katanya.

Bank Neo Commerce juga menyediakan informasi dan panduan mengenai keuangan, termasuk edukasi terkait keamanan digital, melalui situs resmi, media sosial resmi, dan aplikasi mobile banking neobank.

Upaya edukasi tersebut sejalan dengan kampanye OJK bertajuk "GENCARKAN" atau Gerakan Nasional Cerdas Keuangan yang bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Eri menilai pemberantasan scam membutuhkan kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari industri perbankan, regulator, aparat penegak hukum, penyedia teknologi, hingga masyarakat.

"Kami percaya bahwa melawan scam membutuhkan kolaborasi, dan bank tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi antara industri perbankan, regulator, aparat penegak hukum, penyedia teknologi, dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mempersempit ruang gerak penipuan," tutup Eri. (end)