BANK MANDIRI : SITUASI EKONOMI GLOBAL SANGAT TIDAK MENENTU
Share via
Terbit Pada
11 May 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 13-05-2026, 10:54:am
13124897
IQPlus, (12/5) - Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan situasi ekonomi global sangat tidak menentu.
"Bahkan kalau kita membuat skenario saat ini, kita di internal Bank Mandiri Group, kita merasakan bahwa skenario yang kita lakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat, karena kita menghadapi banyak tantangan dan banyak faktor atau variabel yang mempengaruhi kondisi atau bottom line dari perusahaan kita atau bahkan perekonomian kita," katanya dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, Senin.
Melihat kondisi ekonomi global, konflik AS dengan Iran belum menemui titik temu yang berimplikasi terhadap disrupsi di Selat Hormuz yang menjaga risiko pasokan energi tinggi dengan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Dalam konteks ini, sentimen risk-off menguatkan dolar AS dan menekan aset emerging markets (EM).
Outlook International Monetary Fund (IMF) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.
Kemudian, pasar memproyeksikan Fed Fund Rate (FFR) tak turun sepanjang tahun ini di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan 350-375 basis points (bps) dominasi hingga akhir tahun.
Adapun arus inflow ke EM tertahan dan berpotensi berubah menjadi outflow, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya risk aversion (penghindaran risiko) global.
Pihaknya menilai risiko yang perlu diwaspadai mencakup disrupsi Selat Hormuz dan eskalasi AS-Iran-Lebanon yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak, dan meningkatnya beban fiskal akibat naiknya subsidi energi.
Kedua, harga energi yang meningkat mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga mengurangi ruang pelonggaran moneter bank sentral EM, termasuk Bank Indonesia (BI).
Berikutnya yaitu sentimen risk-off mendorong depresiasi rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), dan tekanan terhadap bursa saham. Terakhir adalah risiko meningkatnya suku bunga (market rate), serta terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.
Dalam keadaan ini, Indonesia berpeluang memperoleh windfall komoditas eksportir crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel, yang mengalami kenaikan harga, sehingga memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.
Relokasi rantai pasok global turut membuka peluang penanaman modal asing ke negara EM, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif.
Selain itu, penguatan kebijakan hilirisasi meningkatkan nilai tambah ekspor dengan adanya pergeseran dari raw material ke produk olahan (smelter, katoda, battery grade).
Transasi energi global turut memicu momentum investasi di kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan, dimana Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci ekosistem baterai dan listrik global.
"Jangan lupa bahwa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia," ungkap Andry Asmoro. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
