BANK MANDIRI BIDIK KREDIT 7-9 PERSEN, BELUM ADA NIAT REVISI KE ATAS
Share via
Terbit Pada
19 February 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 06-02-2026, 07:20:pm
04925842
IQPlus, (19/2) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan belum ada rencana merevisi ke atas target pertumbuhan kredit pada 2026, yakni tetap berada pada kisaran 7-9 persen, di tengah upaya regulator yang mendorong perbankan untuk meningkatkan target kredit.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan saat dijumpai media usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa perseroan tetap menjalankan target sebagaimana tertuang dalam rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan pada Desember 2025.
Namun, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan revisi usai memantau perkembangan kinerja penyaluran kredit setidaknya hingga paruh pertama tahun ini.
"Jadi kita teruskan saja dengan RBB yang ada sekarang. Nanti Juni mungkin baru kita lihat perkembangannya untuk revisi atau tidak," kata Riduan.
Meski target pertumbuhan kredit sebesar 7-9 persen, Riduan memastikan bahwa Bank Mandiri senantiasa berupaya melampaui target dalam RBB.
Per akhir Desember 2025, kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.895,0 triliun atau tumbuh sebesar 13,4 persen (year on year/yoy). Menurut perseroan, realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis.
Kinerja kredit yang positif juga diiringi dengan terjaganya kualitas, dengan rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,96 persen pada akhir 2025 atau berada di bawah rata-rata industri dan konsisten menunjukkan tren perbaikan secara gradual.
Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp2.105,8 triliun, tumbuh 23,9 persen yoy. Struktur pendanaan terjaga baik dengan dana murah (CASA) tumbuh 12,6 persen yoy menjadi Rp1.431,4 triliun
Sementara dari sisi profitabilitas, Bank Mandiri membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp56,3 triliun sepanjang 2025.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kredit perbankan pada 2026 tumbuh dua digit yakni sebesar 10-12 persen yoy, didukung oleh pertumbuhan DPK sebesar 7-9 persen (yoy).
Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pihaknya optimis target tersebut dapat tercapai.
OJK, ujar Dian, akan berfokus untuk mendorong kinerja bank dengan pendekatan secara individual. Menurutnya, negosiasi untuk mengubah target kredit menjadi lebih tinggi masih terus berlangsung.
"Negosiasi terkait pertumbuhan kredit contohnya di masing-masing RBB bank itu masih terus diupayakan sekarang. Ada negosiasi yang lebih tinggi. Itu untuk semua jenis kredit, termasuk korporasi dan lain sebagainya," kata dia.
Namun, menurut Dian, yang juga paling penting yaitu mendorong peningkatan kredit kepada UMKM di tengah pertumbuhan yang kurang menggembirakan pada segmen ini.
Oleh sebab itu, OJK menjalankan strategi yang lebih sistemik untuk mengatasi persoalan kredit UMKM, tidak hanya dari sisi peningkatan kuantitas tetapi juga kualitas kredit.
"Di daerah, kita juga melakukan banyak hal. Kantor-kantor OJK sekarang banyak melakukan langkah-langkah untuk bagaimana menemukan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di daerah, yang kemudian itu bisa dibiayai dengan kredit UMKM," kata Dian.
Secara industri, kredit perbankan per akhir Desember 2025 tumbuh sebesar 9,63 persen yoy menjadi Rp8.586 triliun. Di sisi lain, DPK tumbuh 13,83 persen yoy menjadi Rp10.059 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 19,13 persen, 14,28 persen, dan 8,19 persen yoy. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
