BAHLIL JAMIN RI UNTUNG MESKI IMPOR MINYAK DARI AS SAAT HARGA NAIK
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
05 March 2026
06339517
IQPlus, (5/3) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin Indonesia tetap untung meskipun mengimpor minyak dari Amerika Serikat ketika harga sedang naik akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Harga minyak mentah jenis Brent (ICE) telah menyentuh 83 dolar AS per barel, lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak mentah jenis Brent (ICE) pada Januari 2026 yang sebesar 64 dolar AS per barel.
"Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi (pembelian minyak dari AS) ada negosiasi. Pasti menguntungkan," ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3) malam.
Bahlil juga meyakini, Pertamina selaku badan usaha milik negara (BUMN) yang mengalihkan impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat juga memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi dan mencari harga minyak yang lebih baik.
Dengan demikian, terdapat kepastian ihwal ketahanan minyak mentah (crude) di dalam negeri. Terkait dengan bahan bakar minyak (BBM), Bahlil menyampaikan Indonesia mengimpor BBM dari Singapura.
Ia percaya Singapura memiliki alternatif pemasok minyak mentah seperti Indonesia, sehingga pasokan BBM yang diimpor dari Singapura tetap stabil. Bahlil menekankan bahwa Timur Tengah bukanlah sumber minyak mentah satu-satunya di dunia.
"Ada dari Afrika (Angola), Brazil. Sebagian juga mereka (Singapura) ambil dari Malaysia, sebagian bisa ambil dari Amerika," ucap Bahlil.
Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan masyarakat di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
