ARAB SAUDI LANJUTKAN KEMBALI EKSPOR MINYAK DARI YANBU
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
29 September 2026
27152585
IQPlus, (29/9) - Arab Saudi telah kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah memulai kembali operasi pipa Timur-Barat, menurut sumber perdagangan dan data pelayaran, sehingga memperbaiki prospek ekspor minyak dari Timur Tengah.
Serangan pesawat nirawak (drone) yang menurut Arab Saudi dilakukan oleh milisi Irak memaksa kerajaan tersebut menutup pipa itu pada 11 September dan menghentikan ekspor minyak mentah dari Yanbu. Operasi pipa kembali berjalan pada hari Selasa lalu.
Perusahaan minyak raksasa milik negara, Saudi Aramco, memberi tahu para pelanggan pada Senin malam mengenai jadwal pemuatan bulan Oktober dari Yanbu, ungkap sebuah sumber dari perusahaan kilang di Asia. Perusahaan kilang tersebut telah memuat kargo dari Yanbu pada akhir pekan lalu.
Aramco tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Dimulainya kembali kegiatan pemuatan di Yanbu diperkirakan akan meningkatkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah, wilayah yang pengiriman minyaknya melalui Selat Hormuz jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik sempat terhambat akibat ketegangan antara AS dan Iran.
"Citra satelit ESA (Badan Antariksa Eropa) yang diambil di atas Laut Merah pada 27 September menunjukkan Arab Saudi sedang memuat hampir 10 juta barel minyak mentah di Yanbu dan Al Muajjiz," tulis perusahaan pelacak kapal TankerTrackers.com dalam sebuah unggahan di X pada hari Selasa.
Al Muajjiz adalah sebuah terminal di sebelah selatan Yanbu.
"Kami juga mengamati kegiatan pemuatan produk olahan. Secara keseluruhan, kami mengidentifikasi 40 kapal tanker secara visual, terlepas dari aktivitas maupun jaraknya dari terminal-terminal tersebut."
Dua sumber perdagangan secara terpisah memperkirakan volume pemuatan minyak mentah dari Yanbu mencapai sekitar 2 juta barel per hari sejak pekan lalu.
Perusahaan pelacak kapal Kpler memperkirakan volume aliran minyak (throughput) saat ini pada jalur pipa tersebut berada di kisaran 2,65 juta barel per hari (bpd) dan memprediksi angka ini akan naik menjadi antara 3 juta hingga 4 juta bpd dalam beberapa hari mendatang. Pemulihan penuh ke tingkat sebelum serangan yang mencapai sekitar 5,5 juta bpd mungkin masih memerlukan waktu satu bulan lagi, demikian disampaikan perusahaan tersebut dalam sebuah catatan pada hari Senin.
Menurut Kpler, stok minyak mentah di terminal Yanbu meningkat sekitar 1 juta barel pada tanggal 22 September; ini merupakan peningkatan pertama sejak terjadinya serangan.
Berdasarkan rata-rata tujuh hari hingga 22 September, Kpler memperkirakan volume transit minyak mentah melalui Selat Hormuz termasuk aktivitas transfer muatan antar-kapal di Teluk Oman mencapai 9 juta bpd. Angka ini naik dari titik terendah sebesar 2,2 juta bpd pada akhir Juli dan setara dengan sekitar 60 persen dari rata-rata tahun 2025.
Penambahan peningkatan bersih dari Yanbu dan Fujairah mendorong ekspor minyak mentah Timur Tengah hingga mencapai angka sedikit di bawah 80 persen dari tingkat sebelum konflik.
Kegiatan pemuatan minyak mentah di Sidi Kerir, Mesir, kembali berjalan pada 22 September setelah sempat terhenti selama 10 hari; namun, kapal-kapal tanker masih mengantre di lepas pantai karena adanya pembatasan akses yang terus membatasi pergerakan sebagian besar armada komersial, ungkap Kpler dalam catatan tersebut. (end/Reuters)
Riset Terkait
Berita Terkait
