ANTAM MEMPERCEPAT KESIAPAN PROYEK HPAL BULI MENUJU KONSTRUKSI
Share via
Published On
11 September 2026
Related Stocks
Latest update: 10-09-2026, 03:10:pm
25326044
IQPlus, (11/9) - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mempercepat penyelesaian perizinan, pengadaan lahan, dan kesiapan proyek HPAL di Buli, Halmahera Timur, agar proyek pengolahan nikel tersebut dapat segera memasuki tahap konstruksi.
Head of Investor Relations Antam Ihsan Rahman mengatakan HPAL atau high-pressure acid leaching merupakan bagian penting dari pengembangan rantai nilai baterai kendaraan listrik perseroan.
"Fokus kami saat ini mempercepat penyelesaian hal-hal tersebut agar dapat segera memulai konstruksi," kata Ihsan dalam Public Expose Live 2026 secara daring di Jakarta, Kamis.
HPAL merupakan teknologi pelindian asam bertekanan tinggi yang digunakan untuk mengolah bijih nikel laterit. Dalam proyek Buli, fasilitas tersebut diarahkan menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai produk antara untuk mendukung kebutuhan bahan baku ekosistem baterai kendaraan listrik.
Berdasarkan paparan perseroan, proyek HPAL Buli masih berada pada tahap peninjauan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID). Proyek itu dikembangkan bersama konsorsium CBL yang terdiri atas CATL, Brunp, dan Lygend.
Antam memiliki kepemilikan 30 persen pada perusahaan patungan tersebut. Fasilitas HPAL dirancang memiliki kapasitas 55.000 ton MHP per tahun dengan jadwal proyek 2026-2028 dan estimasi biaya sekitar 1,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) setara sekitar Rp33,35 triliun.
Pengembangan HPAL menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan nilai tambah bijih nikel limonit berkadar rendah melalui pengolahan menjadi produk bernilai lebih tinggi.
"Antam dapat memonetisasi bijih nikel limonit berkadar rendah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi, sehingga meningkatkan nilai ekonomi sumber daya nikel Antam sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru," ujar Ihsan.
Dalam paparan perseroan, rantai nilai proyek baterai kendaraan listrik mencakup pertambangan bijih nikel, fasilitas pengolahan nikel dan kawasan industri, HPAL, material baterai, sel baterai, hingga daur ulang.
Ihsan mengatakan proyek baterai kendaraan listrik tersebut masih berada dalam fase pengembangan dan persiapan. Sejumlah tahapan teknis, termasuk perizinan, masih perlu diselesaikan sebelum konstruksi dapat berjalan.
"Memang ada penyesuaian-penyesuaian jadwal karena berbagai perizinan teknis," kata Ihsan.
Menurut dia, Antam tetap menempatkan peningkatan nilai tambah nikel menjadi MHP untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik sebagai salah satu prioritas pengembangan bisnis nikel.
Selain HPAL, rantai nilai tersebut mencakup proyek pengolahan nikel dengan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) di Buli untuk menghasilkan nickel pig iron (NPI). Antam memiliki kepemilikan 40 persen dalam proyek yang berkapasitas 88.000 ton NPI per tahun itu.
Proyek RKEF memiliki jadwal 2025-2027 dengan estimasi biaya sekitar 1,4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp24,57 triliun. Berdasarkan paparan Antam, proyek tersebut saat ini berada pada tahap engineering, procurement and construction (EPC).
Ihsan mengatakan perseroan juga terus menjalankan efisiensi internal pada bisnis nikel, antara lain melalui pengurangan biaya di smelter feronikel, optimalisasi penggunaan energi, serta pengaturan pencampuran bijih nikel.
"Dengan demand dari sektor stainless steel dan EV battery yang terus naik, kita yakin nikel akan jadi penopang kuat margin perseroan di jangka menengah panjang," ujar Ihsan. (end/ant)
Related Research
News Related
