BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    ANALIS : RESPONS PEMERINTAH KE LEMBAGA RATING UPAYA STABILISASI CEPAT

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    02 March 2026

    06039756

    IQPlus, (2/3) - Analis Ekonomi Politik Pasar Saham Kusfiardi menilai respons Pemerintah Indonesia terhadap peringatan lembaga pemeringkat global menunjukkan upaya stabilisasi yang cepat.

    Namun demikian, menurutnya, respons tersebut masih menyisakan pertanyaan mengenai kredibilitas reformasi struktural jangka panjang.

    "Pemerintah relatif cepat merespons peringatan lembaga rating. Tetapi respons itu lebih bersifat pembelaan terhadap fundamental makro yang ada, bukan penyampaian roadmap reformasi struktural yang benar-benar baru dan terukur," ujar Kusfiardi sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

    Kusfiardi menilai respons cepat pemerintah tersebut penting untuk menjaga persepsi pasar dan mencegah downgrade lanjutan.

    Namun demikian, menurutnya, pelaku pasar tetap menuntut konsistensi implementasi dan peningkatan transparansi tata kelola.

    "Pasar bukan hanya menilai angka makro. Mereka menilai kredibilitas, konsistensi dan arah kebijakan. Jika komunikasi hanya bersifat reaktif pasca-peringatan, ruang ketidakpastian tetap terbuka," ujar Kusfiardi.

    Ia mengatakan sejumlah analis menilai outlook negatif dari Moody's merupakan sinyal kewaspadaan terhadap risiko fiskal Indonesia jangka menengah.

    "Investor global mengamati periode 12-18 bulan ke depan sebagai fase krusial untuk menguji kredibilitas kebijakan," ujat Kusfiardi.

    Selain itu, lanjutnya, penurunan rekomendasi saham Indonesia oleh sejumlah bank investasi internasional, serta arus keluar modal yang terjadi sejak awal 2026 mencerminkan kehati-hatian pasar.

    "Potensi peninjauan indeks oleh MSCI juga menjadi faktor yang memperbesar volatilitas," ujar Kusfiardi.

    Dalam konteks ini, Ia menilai karakter kebijakan yang dinilai normatif, yaitu mengikuti standar pengelolaan fiskal konvensional tanpa terobosan struktural signifikan- dipandang belum cukup menjawab target ambisius pertumbuhan 8 persen pada 2029.

    Menurut Kusfiardi, ketidakpastian yang timbul dari persepsi pelaku pasar membuka ruang spekulasi jangka pendek.

    "Dalam kondisi transisi kebijakan dan ketidakpastian rating, pelaku pasar global-termasuk hedge funds dan investor institusional- cenderung memanfaatkan volatilitas untuk strategi short-term gain. Ini bukan anomali, tetapi mekanisme pasar yang rasional dalam situasi ambigu," ujar Kusfiardi

    Kusfiardi mengatakan spekulasi dapat terjadi pada saham, obligasi pemerintah, maupun nilai tukar rupiah, terutama jika narasi reformasi tidak disampaikan secara komprehensif dan konsisten.

    Ia melanjutkan bahwa fenomena ini bukan semata-mata akibat faktor eksternal, melainkan refleksi dari kebutuhan akan desain kebijakan yang lebih proaktif dan berjangka panjang.

    " Untuk mengurangi risiko spekulatif dan memperkuat posisi tawar Indonesia di mata investor global, diperlukan peningkatan transparansi fiskal dan governance, termasuk kejelasan desain operasional sovereign wealth fund," ujar Kusfiardi.

    Ia menyebut perlunya roadmap reformasi struktural yang terukur, bukan sekadar penegasan stabilitas makro, serta komunikasi kebijakan yang konsisten dan berbasis data, agar tidak menimbulkan interpretasi berbeda di pasar global.

    "Stabilitas jangka pendek bisa dicapai melalui intervensi dan komunikasi. Tetapi kredibilitas jangka panjang hanya bisa dibangun melalui reformasi struktural yang konsisten dan terukur," ujar Kusfiardi.

    Seiring jadwal peninjauan rating lanjutan dalam beberapa bulan ke depan, pelaku pasar akan terus menguji sejauh mana pemerintah mampu mengubah respons defensif menjadi strategi reformasi yang lebih sistemik. (end/ant)