BCA Sekuritas
langen
Daily News

KEMENPERIN : INDUSTRI MAMIN TUMBUH 6,77% DI SEMESTER I 2026

Category

Business Economics

Published On

18 September 2026

26054534

IQPlus, (18/9) - Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat produksi, inovasi, dan investasi pangan di tingkat global. Peluang tersebut didukung kekuatan industri manufaktur, sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen untuk memperkuat struktur industri pangan melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah bahan baku lokal, penguatan standar mutu, serta perluasan kemitraan dan akses pasar internasional. Langkah ini semakin penting seiring perubahan preferensi konsumen global yang menempatkan aspek kesehatan, keamanan pangan, kualitas, dan keberlanjutan sebagai pertimbangan utama.

Dalam siaran pers Kemenperin (18/9) disebutkan Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah industri manufaktur Indonesia mencapai USD 275,61 miliar. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai industri pangan regional maupun global.

"Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global," ujar Faisol saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 beberapa waktu lalu.

Kinerja Industri dan Tantangan Pasar Global

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika mengatakan perkembangan industri mamin perlu terus diselaraskan dengan perubahan perilaku konsumen. Selain rasa dan harga, konsumen semakin memperhatikan kandungan gizi, kualitas bahan baku, keamanan pangan, serta aspek keberlanjutan.

"Industri harus terus beradaptasi dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, termasuk dari sisi kesehatan, keamanan, kualitas, dan keberlanjutan," ujar Putu saat pembukaan pameran Fi Asia Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Pada Semester I 2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan memberikan kontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas serta 7,16 persen terhadap PDB nasional. Kinerja ekspor juga menunjukkan daya saing industri mamin. Pada 2025, ekspor mencapai USD49,5 miliar, meningkat 19,5 persen dan menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Surplus neraca perdagangan pada periode tersebut mencapai USD36,1 miliar.

Tren positif berlanjut pada Semester I 2026, dengan ekspor industri mamin mencapai USD24,61 miliar dan surplus USD17,57 miliar. Industri mamin juga menjadi salah satu sektor manufaktur dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni sekitar 6,94 juta tenaga kerja atau 34,72 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas. Sementara itu, realisasi investasi pada Semester I 2026 mencapai Rp 26,82 triliun.

Di tengah kinerja tersebut, industri pangan menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompleks. Persyaratan perdagangan tidak lagi hanya berkaitan dengan harga dan kapasitas produksi, tetapi juga keamanan pangan, standar mutu, jejak lingkungan, serta tuntutan terhadap produk yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sejumlah regulasi dan tren global, seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), pengetatan Maximum Residue Limit (MRL), serta meningkatnya permintaan produk clean label dan plant-based, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri nasional.

Untuk merespons perkembangan tersebut, Kemenperin memperkuat penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib pada berbagai produk pangan strategis, antara lain tepung terigu, air minum dalam kemasan, minyak goreng sawit, kopi instan, kakao bubuk, dan gula kristal rafinasi.

"Standar bukan hanya untuk melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan terhadap produk Indonesia dan membantu industri memenuhi persyaratan pasar global," kata Putu.

Menurut Putu, penguatan standar perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas bahan baku lokal, teknologi, inovasi produk, dan kapasitas industri. Dengan demikian, hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan volume produksi, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang berdaya saing di pasar internasional.

Penguatan daya saing tersebut juga dipacu melalui penyelenggaraan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 yang memasuki edisi ke-30 dengan tema "Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future".

Pameran ini menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri pangan, pemasok bahan baku, penyedia teknologi, akademisi, pemerintah, dan mitra bisnis internasional. Selain membuka peluang business-to-business matchmaking, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

"Kami ingin menghubungkan pasar dan sumber daya Indonesia dengan teknologi, inovasi, dan jejaring global. Industri pangan harus mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah untuk pasar internasional,"pungkas Putu.

Melalui penguatan standar, hilirisasi, inovasi, dan kolaborasi sepanjang rantai nilai, Indonesia diharapkan semakin mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan industri pangan global sekaligus membangun industri yang lebih sehat, hijau, kompetitif, dan berkelanjutan. (end)