BCA Sekuritas
langen
Daily News

KALBE FARMA UNGKAP STRATEGI PELEMAHAN RUPIAH HADAPI BAHAN BAKU IMPOR

Published On

11 September 2026

Related Stocks

Latest update: 07-09-2026, 12:10:pm

25352060

IQPlus, (11/9) - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengungkapkan sejumlah strategi untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2026, yang menekan margin perseroan.

Direktur Kalbe Farma Kartika Setiabudy mengatakan pelemahan rupiah masih menjadi tantangan bagi kinerja margin perseroan, karena biaya produksi sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahan baku impor.

"Pelemahan rupiah ini tentunya berdampak cukup besar terhadap laba kotor atau gross profit kami, karena biaya produksi sangat dipengaruhi dengan bahan baku impor, sehingga pelemahan rupiah ini merupakan suatu tantangan untuk Kalbe," kata Kartika dalam konferensi pers Public Expose Live 2026, di Jakarta, Jumat.

Meskipun rupiah belakangan mulai menguat, Kartika mengatakan bahwa tekanan terhadap margin perseroan masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2026

Ia menjelaskan hal tersebut karena dampak dari persediaan atau inventory, sehingga membuat perseroan belum melihat akan terjadinya perbaikan margin yang signifikan.

Sebagai upaya menghadapi tekanan tersebut, ia mengatakan perseroan akan menerapkan sejumlah strategi, salah satunya menaikkan harga secara selektif untuk beberapa produk konsumen.

"Ke depannya, kita akan melakukan berbagai strategi, beberapa yang sudah kita lakukan tahun ini adalah secara selektif melakukan kenaikan harga untuk beberapa produk konsumen," ujar Kartika.

Selain itu, katanya lagi, perseroan dalam jangka panjang akan mengoptimalkan portofolio produk dengan mengarahkan bisnis ke produk-produk yang memiliki margin lebih baik.

"Kita juga akan terus melakukan strategi portofolio untuk mengelola portofolio kami ke arah produk-produk yang memiliki margin lebih baik," ujar Kartika pula.

Lebih lanjut, perseroan akan terus mendorong penggunaan produk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), yaitu untuk divisi alat kesehatan, strategi tersebut dilakukan melalui perakitan produk secara lokal.

"Tadi kita juga sudah bicarakan mengenai strategi untuk berinvestasi di TKDN. Tapi memang ini kita lakukan mungkin untuk divisi alat kesehatan dalam bentuk melakukan perakitan secara lokal. Untuk sektor obat resep sendiri memang masih terkendala dengan keterbatasan bahan baku obat yang tersedia secara lokal," kata Kartika.

Adapun, tekanan terhadap margin terjadi di tengah pertumbuhan penjualan Kalbe Farma, dengan penjualan tumbuh 14,04 persen year-on-year (yoy) mencapai Rp19,47 triliun pada semester I-2026, dibandingkan senilai Rp17,07 triliun pada semester I-2025.

Akibat tekanan margin tersebut, laba bersih justru menurun menjadi Rp1,91 triliun pada semester I-2026, dibandingkan senilai Rp1,97 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penjualan perseroan ditopang oleh kenaikan pada seluruh segmen bisnis, dengan segmen obat resep membukukan penjualan Rp5,30 triliun, produk kesehatan Rp2,70 triliun, nutrisi Rp4,26 triliun, serta distribusi dan logistik Rp7,20 triliun. (end)