BCA Sekuritas
langen
Daily News

IPCM INCAR EKSPANSI LAYANAN DI TUKS DAN TERSUS, SOROTI TANTANGAN BBM

Published On

09 June 2026

Related Stocks

Latest update: 10-03-2026, 04:31:pm

15951156

IQPlus, (9/6) - PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM) melihat prospek industri jasa pemanduan dan penundaan kapal di Indonesia masih sangat menjanjikan. Perseroan menilai keberadaan ribuan terminal khusus dan terminal untuk kepentingan sendiri di berbagai wilayah Indonesia membuka peluang ekspansi layanan yang signifikan.

Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita, mengatakan Indonesia saat ini memiliki 947 Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) dan 1.402 Terminal Khusus (Tersus) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi potensi besar bagi perseroan untuk memperluas kolaborasi dalam penyediaan jasa pemanduan dan penundaan kapal.

"Ini menjadi peluang besar bagi IPCM untuk berkolaborasi memberikan pelayanan jasa pemanduan dan penundaan kapal di berbagai titik terminal yang ada di Indonesia," ujar Shanti dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Selain didukung oleh banyaknya terminal, IPCM juga menyoroti posisi strategis Indonesia yang berada di jalur perdagangan internasional. Salah satu aset strategis tersebut adalah Selat Malaka yang menjadi jalur utama lalu lintas pelayaran dunia dan menghubungkan ratusan pelabuhan internasional.

Shanti mengungkapkan bahwa pada 2025 tercatat sekitar 102.500 kapal melintasi Selat Malaka. Jalur tersebut berperan penting dalam perdagangan global karena menghubungkan lebih dari 300 pelabuhan internasional di berbagai negara.

"Kurang lebih pada tahun 2025 terdapat 102.500 kapal yang bergerak hilir mudik melewati Selat Malaka. Selat ini menghubungkan lebih dari 300 pelabuhan internasional di dunia," kata Shanti.

Meski prospeknya dinilai cerah, IPCM mengakui industri logistik dan maritim masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di kisaran US$90,28 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut Shanti, bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar dalam operasional perseroan. Karena itu, kenaikan harga BBM menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar tidak menekan kinerja perusahaan. "Bagi kami harga BBM menjadi faktor utama karena biaya terbesar operasional kami adalah bahan bakar," ujarnya. (end)